Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Pertamina dan SGN Bangun Pabrik Bioetanol di Banyuwangi, Target Kurangi Impor BBM dan Emisi Karbon

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Pertamina dan SGN Bangun Pabrik Bioetanol di Banyuwangi, Target Kurangi Impor BBM dan Emisi Karbon
Foto: Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan pabrik bioetanol di Banyuwangi, Jawa Timur (sumber: Pemkab Banyuwangi)

Pantau - PT Pertamina bekerja sama dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) membangun pabrik bioetanol terintegrasi di kawasan Pabrik Gula Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dengan kapasitas produksi mencapai 30 ribu kiloliter (KL) per tahun.

Dorong Energi Bersih dan Kurangi Ketergantungan Impor

Direktur Transformasi dan Kelanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menegaskan bahwa pembangunan pabrik ini merupakan bagian dari upaya transformasi energi berbasis potensi lokal.

"Ini merupakan transformasi produk sampingan gula menjadi energi bersih, dengan pabrik bioetanol terintegrasi di Banyuwangi, yang akan mendorong swasembada energi melalui perekonomian rakyat," ungkapnya.

Pabrik bioetanol tersebut diperkirakan mampu mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM) hingga USD 13,9 juta atau sekitar Rp233,52 miliar per tahun.

"Ini akan menekan impor BBM dan menekan emisi karbon, melalui substitusi impor BBM senilai USD 13,9 juta akan dicapai ketahanan energi, dan melalui pengurangan emisi karbon senilai 66 ribu ton CO₂ ekuivalen akan dicapai keberlanjutan lingkungan," ia menambahkan.

Hasil produksi bioetanol akan dikirim ke Terminal BBM Pertamina dan disalurkan ke pasar melalui SPBU Pertamina.

Sebelumnya, Pertamina telah memasarkan Pertamax Green 95 dengan kandungan etanol 5 persen melalui 177 SPBU di Pulau Jawa.

"Melalui pabrik bioetanol di Banyuwangi ini nantinya akan diperluas wilayah implementasinya dan ditingkatkan kandungan etanolnya, sehingga akan seiring dengan negara-negara besar di dunia yang menggunakan etanol sebagai bahan bakar bersih," lanjut Agung.

Siap Produksi, Didukung Bahan Baku dan Infrastruktur

Direktur Utama PT SGN, Mahmudi, memastikan bahwa ketersediaan bahan baku molase untuk produksi bioetanol sudah mencukupi.

"Dari sisi feed-stock aman, kurang lebih untuk 100 KLP kan butuh sekitar 120 ribu ton dalam setahunnya, kebetulan produksi molase dari PT SGN secara total hampir 700 ribu ton, saya kira cukup, nanti juga didukung dari 5 pabrik gula yang ada di sekitar," jelasnya.

Pabrik ini akan dibangun di atas lahan seluas 10 hektare dan dijadwalkan mulai dibangun pada bulan Juni mendatang, dengan waktu pengerjaan selama 24 bulan.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyatakan bahwa pembangunan pabrik bioetanol ini akan memberikan dampak positif bagi petani lokal dan lingkungan.

"Tebu petani Banyuwangi dan daerah sekitar juga akan kian terserap maksimal, karena selain untuk kebutuhan produksi gula, juga untuk bahan baku bioetanol," ujarnya.

Proyek ini juga menjadi bagian dari fase pertama program hilirisasi yang dijalankan oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia.

"Bioetanol merupakan energi bersih yang lebih ramah lingkungan, dan pabrik ini akan berkontribusi pada pasokan energi bersih nasional," ucap Ipuk.

Penulis :
Shila Glorya