
Pantau - Perjalanan hidup Akhmad Munir, seorang jurnalis senior yang pernah memimpin Perum LKBN ANTARA dan kini menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, diangkat dalam buku biografi berjudul "Langkah Sunyi Menuju Puncak: Biografi Akhmad Munir, Dari Rock n’ Roll ke Jenderal Wartawan".
Buku ini diluncurkan dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional 2026 di Serang, Banten, dan ditulis oleh wartawan ANTARA Abdul Hakim.
Biografi ini tidak sekadar menyoroti jabatan Munir, tetapi menggali nilai-nilai integritas, keberanian, dan keteladanan dalam perjalanan sunyi seorang jurnalis.
Kisah dimulai dari masa kecil Munir di pelosok Sumenep, Madura, yang tumbuh di antara lantunan doa dan dentuman musik Rock n’ Roll.
Musik menjadi bagian penting dalam hidupnya, membentuk keberanian, ekspresi diri, dan daya tahan terhadap tekanan publik.
Dari Rock n’ Roll ke Jurnalisme: Transformasi yang Membentuk Integritas
Dentuman Rock n’ Roll tidak hanya menjadi hobi, tetapi menjadi energi perlawanan terhadap batas dan ketakutan.
Pengalaman bermusik membentuk mentalitas Munir saat memasuki dunia jurnalistik—dunia yang penuh tenggat waktu, kerja lapangan, dan tekanan profesional.
Keberanian yang lahir dari panggung musik terbawa dalam setiap langkah Munir sebagai wartawan: menyampaikan fakta tanpa takut, meski dalam tekanan.
Transformasi ini menjadi bukti bahwa integritas tidak selalu lahir dari jalur yang lurus.
Bagi Munir, berita adalah tanggung jawab moral yang berdampak pada cara publik memahami realitas.
Ia memandang pers bukan sekadar industri, melainkan institusi publik yang harus dijaga dengan integritas.
Kepemimpinan sebagai Teladan dan Tantangan Pers Masa Kini
Sebagai mantan Direktur Utama ANTARA (2023–2025) dan kini Ketua Umum PWI Pusat (2025–2030), Munir digambarkan sebagai sosok yang menempatkan teladan di atas struktur.
Istilah langkah sunyi menjadi metafora konsistensi, kesederhanaan, dan kesabaran dalam menjaga nilai-nilai profesi.
Di tengah tantangan besar dunia pers—disinformasi digital, polarisasi politik, dan komersialisasi ruang redaksi—Munir menyerukan pentingnya regenerasi dan pendidikan jurnalistik.
Dewan Pers mencatat bahwa indeks kemerdekaan pers Indonesia masih menghadapi tekanan serius, baik dari luar maupun dari dalam.
Munir percaya bahwa kepercayaan publik terhadap media adalah fondasi demokrasi yang sehat.
Ia menekankan pentingnya verifikasi, ketepatan, dan tanggung jawab dalam setiap berita yang disajikan.
Buku biografi ini tidak hanya menjadi catatan hidup, tetapi juga kompas moral bagi generasi muda dan insan pers di seluruh Indonesia.
Di antara dentuman musik dan ketegangan ruang redaksi, Munir memilih jalan sunyi—sebuah jalan integritas yang memberi arah bagi masa depan pers nasional.
- Penulis :
- Gerry Eka








