Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

BRIN Soroti Ekosistem Manuskrip sebagai Kunci Ketahanan Budaya di Tengah Digitalisasi

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

BRIN Soroti Ekosistem Manuskrip sebagai Kunci Ketahanan Budaya di Tengah Digitalisasi
Foto: (Sumber: Pengunjung melihat koleksi manuskrip yang dipamerkan pada Pameran Temporer Koleksi Filologika se-Sumatera di Museum Adityawarman Padang, Sumatera Barat, Senin (21/7/2025). Pameran bertema Khazanah Iluminasi Manuskrip Sumatera itu menampilkan manuskrip koleksi kaum dan pribadi dari berbagai daerah di Sumatera dengan kekayaan ragam hias berisi iluminasi dan ilustrasi beragam yang indah. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/bar.)

Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan pentingnya pendekatan berbasis ekosistem dalam pelestarian manuskrip sebagai bagian dari ketahanan budaya nasional.

Pernyataan ini disampaikan melalui Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) BRIN pada Minggu, 8 Februari 2026.

Periset BRIN, Agus Iswanto, menyoroti tradisi pembacaan manuskrip ruwatan di Jember, Jawa Timur, yang hingga kini masih bertahan sebagai praktik budaya yang hidup.

Manuskrip ruwatan, menurutnya, tidak dapat digantikan oleh versi cetak atau digital karena harus berupa naskah tulis tangan beraksara Pegon dan dibacakan langsung dalam ritual masyarakat.

Ketahanan Tradisi Tergantung pada Ekosistem Sosial Budaya

Agus Iswanto menjelaskan bahwa ketahanan manuskrip ditopang oleh ekosistem yang melibatkan penyalin, pembaca, peruwat, tuan rumah, hingga audiens.

Ia menambahkan bahwa digitalisasi memang penting untuk dokumentasi, namun bukan satu-satunya solusi menjaga keberlanjutan tradisi manuskrip.

Muh. Heno Wijayanto, peserta Program Doktoral Riset BRIN dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, menyebut bahwa manuskrip kerap disalahpahami sebagai artefak statis.

Dalam kajiannya terhadap teks Bhima Swarga, Heno menegaskan bahwa ketahanan manuskrip terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan perubahan zaman dan sistem kepercayaan.

Manuskrip dilihat sebagai bagian dari tradisi hidup yang mencakup praktik menulis, pendidikan, dan ritual secara turun-temurun.

Kritik atas Paradoks Pelestarian Tekstual

Verena Meyer, peneliti budaya dari Universitas Leiden, Belanda, mengkritik pendekatan pelestarian manuskrip yang terlalu berfokus pada teks kuno tanpa memperhatikan konteks tradisi hidup.

Ia menyebut bahwa digitalisasi bisa bersifat ambivalen: di satu sisi membantu pelestarian, namun di sisi lain dapat mencabut manuskrip dari ekosistem sosial yang memberinya makna.

Arsip digital, menurut Meyer, belum bisa sepenuhnya menggantikan ruang hidup manuskrip sebagai bagian dari praktik budaya yang berkelanjutan.

Diskursus ini menekankan perlunya pendekatan pelestarian yang tidak hanya berorientasi pada penyimpanan data, tetapi juga pada keberlangsungan relasi sosial dan budaya di sekitar manuskrip.

Penulis :
Gerry Eka