
Pantau - Tradisi bersih-bersih rupang atau patung para suci mewarnai persiapan perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Tradisi tersebut digelar pada tanggal 24 bulan 12 penanggalan Imlek sebagai bagian dari rangkaian menyambut tahun baru dan dilaksanakan serentak oleh kelenteng di berbagai belahan dunia.
Juru Bicara Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas Sobitananda menyampaikan, “Bulan 12 tanggal 24 penanggalan Imlek, semua kelenteng di seluruh dunia mengadakan acara bersih-bersih rupang atau patung para suci dan patung leluhur serta peralatan persembahyangan. Setelah selesai dibersihkan selama dua sampai lima hari ke depan, kami mulai kembali melaksanakan persembahyangan,” ungkapnya.
Tradisi tersebut dimaknai sebagai bentuk penyucian tempat ibadah sekaligus simbol membersihkan diri sebelum memasuki tahun baru.
Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas memiliki 18 altar persembahyangan dengan jumlah rupang yang bervariasi di setiap altar.
Ada altar yang memiliki satu rupang, ada yang berisi tiga rupang, dan ada pula yang memiliki lima rupang.
Ia menyampaikan, “Secara keseluruhan dari 18 altar ini, kurang lebih kami memiliki sekitar 24 sampai 25 rupang,” jelasnya.
Khusus altar Mbah Kuntjung tidak terdapat rupang atau patung para suci.
Pada altar tersebut digunakan simbol tiga bilah keris sebagai representasi budaya Kejawen.
Ia menyatakan, “Untuk altar Mbah Kuntjung, kami meletakkan tiga buah keris sebagai simbol budaya Kejawen. Jadi tidak ada rupang atau patung, tetapi menggunakan simbol tiga keris tersebut,” katanya.
Tradisi membersihkan rupang tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan fisik membersihkan patung dan perlengkapan ibadah.
Tradisi tersebut juga menjadi simbol membersihkan hati dan pikiran sebelum memasuki tahun baru agar umat dapat menjalani kehidupan dengan semangat dan energi yang lebih baik.
Puncak perayaan Imlek tahun ini jatuh pada 17 Februari 2026 atau tanggal 1 bulan 1 penanggalan Imlek.
Pada momentum tersebut, umat Tri Dharma akan menggelar sembahyang besar untuk menyambut datangnya musim semi yang dimaknai sebagai pergantian Tahun Baru Imlek.
Rangkaian sembahyang diawali dengan menyalakan lilin sebagai simbol menyambut musim semi dan Tahun Baru Imlek 2577.
Tahun 2577 dalam penanggalan Tionghoa dikenal sebagai Tahun Kuda Api.
Ia menyatakan, “Tahun Kuda Api ini membawa energi tersendiri bagi kehidupan kita. Api memiliki arti energi yang besar, namun emosi juga harus tetap terkendali. Semoga ke depan ada loncatan-loncatan besar bagi negara kita untuk lebih baik dan lebih maju,” tuturnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan







