
Pantau - Pemerintah mempercepat rehabilitasi sarana dan prasarana pendidikan di wilayah terdampak banjir akibat siklon Senyar yang melanda beberapa provinsi di Sumatera.
Fokus pada 52 Kabupaten/Kota Terdampak
Penegasan ini disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatera, Muhammad Tito Karnavian.
Aksi percepatan dipusatkan di 52 kabupaten/kota terdampak di Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Fasilitas pendidikan yang terdampak mencakup semua jenjang, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, madrasah, hingga pondok pesantren.
“Hal yang penting sekali juga adalah masalah sarana pendidikan. Kita tahu bahwa beberapa daerah juga sarana-prasarana pendidikannya, TK, SD, SMP, SMA, juga terdampak. Ada yang rusak, ada juga yang rusak berat, ada yang ringan,” ungkapnya.
Sejak masa tanggap darurat, sebanyak 90.109 personel dari lintas kementerian dan lembaga telah dikerahkan untuk mendukung penanganan bencana.
Kementerian dan lembaga yang terlibat antara lain Kementerian Dalam Negeri, Universitas Pertahanan (Unhan) Kementerian Pertahanan, TNI, Polri, BNPB, Basarnas, Kementerian PUPR, Kemendiktisaintek, serta sekolah-sekolah kedinasan.
Sekolah kedinasan berpartisipasi melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah terdampak.
“Ada sekolah-sekolah kedinasan yang ditugaskan untuk melakukan kegiatan semacam KKN-lah gitu, Kuliah Kerja Nyata. Dari Unhan Kemenhan, kemudian juga dari IPDN Kemendagri, kemudian dari [STIS] Badan Pusat Statistik,” ia mengungkapkan.
Ribuan Sekolah Rusak, Pendataan dan Dukungan Terus Dilakukan
Tito menekankan pentingnya percepatan rehabilitasi sarana pendidikan agar kegiatan belajar mengajar kembali berjalan optimal.
Di Sumatera Barat, layanan pendidikan telah kembali berjalan secara fungsional berkat percepatan perbaikan infrastruktur.
Namun, di Sumatera Utara masih terdapat sejumlah fasilitas pendidikan umum dan keagamaan seperti madrasah dan pondok pesantren yang memerlukan perhatian khusus.
Sementara di Aceh, kerusakan fasilitas pendidikan tergolong luas dan meliputi berbagai jenjang, termasuk rumah ibadah.
“Kemudian untuk fasilitas pendidikan, kita lihat memang banyak yang cukup terdampak. Baik PAUD, TK, SD, SMP, SMA, juga madrasah dan pondok pesantren di beberapa tempat,” ungkap Tito.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyatakan bahwa proses pendataan kerusakan sekolah masih terus dilakukan.
Pendataan dilaksanakan melalui rekonsiliasi data antara pemerintah pusat dan Dinas Pendidikan di tingkat provinsi serta kabupaten/kota.
Kemendikdasmen telah menyalurkan berbagai dukungan, antara lain school kit, ruang kelas darurat, buku pembelajaran, tunjangan khusus untuk guru terdampak, dukungan psikososial, revitalisasi sekolah, serta dana operasional pendidikan darurat.
Total fasilitas pendidikan yang terdampak mencapai 4.863 unit sekolah.
Rinciannya meliputi 3.409 sekolah rusak ringan, 925 rusak sedang, 437 rusak berat, dan 92 sekolah yang harus direlokasi.
Upaya pemulihan sektor pendidikan ini diharapkan dapat mempercepat normalisasi kegiatan belajar mengajar.
Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi besar percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Sumatera.
- Penulis :
- Arian Mesa







