
Pantau - Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin menyoroti maraknya praktik fake BTS sebagai modus penipuan digital saat kunjungan kerja ke Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio di Bandung, Jawa Barat, Rabu, 11 Februari 2026.
Sorotan tersebut disampaikan usai pertemuan dengan Dirjen Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (KomDiGi) Wayan Toni Supriyanto yang memaparkan pola kejahatan tersebut secara komprehensif.
"Tadi juga mengemuka di sini masalah yang buat saya juga baru, yaitu fake BTS terkait dengan penipuan yang marak sekali," ungkapnya.
Modus Canggih Turunkan Sinyal 4G ke 2G
Nurul menjelaskan praktik fake BTS memanfaatkan celah pada spektrum frekuensi dengan cara yang tergolong canggih.
Pelaku disebut mampu mengganggu jaringan seluler dengan menurunkan kualitas sinyal secara paksa dari 4G menjadi 2G untuk menyebarkan SMS penipuan.
"Mereka bisa ngejamming frekuensi dari 4G menjadi turun ke 2G, lalu menyebarkan SMS penipuan. Setelah itu di upload lagi ke 4G sehingga bisa terkoneksi kembali," ujarnya.
Korban yang lengah dan mengklik tautan dalam SMS berisiko kehilangan data pribadi yang kemudian dimanfaatkan untuk aksi kejahatan lanjutan.
"Kalau ada orang lengah, klik, lalu masukkan data, datanya bisa tersedot. Ini bisa menyebabkan penipuan secara sistem karena gerak geriknya sangat profesional," katanya.
Dalam sejumlah kasus yang terungkap, pelaku yang tertangkap merupakan warga negara asing.
"Yang dilakukan banyak sekali oleh warga negara asing. Tadi juga disampaikan sudah pernah menangkap dua orang dan bukan warga Indonesia, tetapi mereka terputus dengan aktor di atasnya," jelasnya.
Negara Diminta Perkuat Teknologi Pengawasan
Nurul menilai kejahatan digital kini berkembang secara terorganisir dan memanfaatkan teknologi tinggi sehingga negara harus memiliki kemampuan yang seimbang untuk melindungi masyarakat.
"Terlihat sekali ini dilakukan secara profesional. Artinya negara juga harus punya kemampuan yang seimbang untuk melindungi masyarakat," tegasnya.
Ia menyebut sektor perbankan turut terdampak oleh penipuan berbasis fake BTS dan bahkan meminta dukungan teknologi untuk membantu proses investigasi.
"Ternyata perbankan juga meminta bantuan untuk menginvestigasi ini, karena mereka sendiri terkendala dengan teknologinya," ungkapnya.
Nurul menyatakan kunjungan kerja tersebut memberikan banyak masukan penting bagi Komisi I DPR RI dalam menjalankan fungsi pengawasan dan penganggaran.
"Saya kira kami di sini mendapatkan insight yang sangat bagus, dan kami berharap anggaran sifatnya bisa dikendalikan dan juga diarahkan secara preventif," ujarnya.
Ia menekankan perlunya penguatan perangkat dan peralatan canggih untuk mengimbangi kemampuan pelaku kejahatan siber yang semakin profesional.
"Tentu ini membutuhkan banyak alat alat dan peralatan yang canggih untuk menyeimbangkan kemampuan penjahat penjahat seluler itu," pungkasnya.
- Penulis :
- Shila Glorya








