Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Dua Bulan Pascabanjir Bandang, Warga Pidie Jaya Masih Berjuang di Atas Lumpur yang Mengering

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Dua Bulan Pascabanjir Bandang, Warga Pidie Jaya Masih Berjuang di Atas Lumpur yang Mengering
Foto: (Sumber: Alat berat eskavator dari BNPB mengeruk lumpur sisa banjir yang menutupi permukiman warga di Desa Manyang Cut Kencamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada 10 Februari 2025. (ANTARA/FB Anggoro).)

Pantau - Deru eskavator memecah kesunyian Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, saat alat berat mengeruk lumpur sisa banjir bandang yang belum sepenuhnya tertangani lebih dari dua bulan pascabencana hidrometeorologi akhir November 2025.

Alat berat tersebut mengeruk lumpur yang telah mengering dan memuatnya ke truk yang datang bergantian melalui jalan desa yang kini sudah bisa diakses kendaraan bermotor.

Mariati, perempuan 51 tahun, menyaksikan dari depan rumahnya ketika truk-truk besar melintasi jalan desa yang sebelumnya terputus akibat terjangan banjir.

"Rumah asli sudah terbenam lumpur 2,5 meter. Gak bisa dibersihkan lagi karena lumpurnya terlalu banyak di dalam," kata Mariati.

Perabotan yang tersisa dari banjir ditata rapi di atas endapan lumpur yang mengeras seperti dua kursi kayu, meja rias, dan foto anak bersama menantunya yang masih tergantung di dinding.

Rumah Mariati kini seakan tumbuh di atas rumah lama mereka yang terbenam lumpur sisa luapan Sungai Meureudu.

Keluarga Mariati termasuk penyintas yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir November 2025.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, total rumah rusak akibat bencana di Aceh mencapai 106.058 unit.

Kerusakan tersebut tersebar di 18 kabupaten dan kota dengan kategori rusak ringan, sedang, hingga rusak berat.

Lebih dari dua bulan pascabencana, lumpur masih menjadi persoalan besar yang belum tuntas di wilayah terdampak.

Warga di daerah aliran Sungai Meureudu, Pidie Jaya, masih kesulitan untuk pulih karena permukiman mereka berada di zona merah bencana.

Sungai Meureudu kini lebih lebar namun dangkal dan permukaannya hampir rata dengan permukiman warga.

Saat hujan turun, sungai kembali meluap dan menggenangi rumah-rumah warga di sekitarnya.

Menjelang Ramadhan, kerinduan akan rumah yang layak dan aman semakin terasa bagi para penyintas yang masih berjuang bangkit dari bencana.

Penulis :
Aditya Yohan