
Pantau - Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menggelar pertemuan dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk membahas penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah sebagai bagian dari peningkatan kualitas pelayanan jamaah.
Dahnil menegaskan pengelolaan haji tidak hanya diukur dari sukses penyelenggaraan ritual ibadah, tetapi juga dari keberhasilan membangun ekosistem ekonomi yang menopang pelayanan secara berkelanjutan.
“Pengelolaan haji harus dimaknai secara komprehensif. Tidak hanya sukses ritualnya, tetapi juga sukses membangun ekosistem ekonominya agar manfaatnya kembali kepada bangsa dan memperkuat pelayanan jamaah,” ujarnya.
Ia menjelaskan dari sekitar Rp40 triliun perputaran uang haji per tahun, diperkirakan sekitar 80 persen berupa arus uang keluar negeri dan belum termasuk potensi ekonomi dari lebih dari dua juta peserta umrah Indonesia setiap tahun.
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan peluang besar untuk mengurangi arus devisa keluar serta meningkatkan keterlibatan pelaku usaha nasional dalam rantai pasok haji dan umrah.
Pengembangan Asrama Haji dan Sinergi Lintas Sektor
Sebagai langkah konkret, Kemenhaj akan mengembangkan asrama haji sebagai pusat penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah.
Asrama haji dinilai memiliki potensi menjadi pusat logistik, pelatihan, inkubasi usaha, hingga etalase produk nasional untuk kebutuhan jamaah karena lahannya luas dan tersebar di berbagai daerah.
Dahnil menegaskan pengembangan tersebut membutuhkan sinergi lintas kementerian dan lembaga terutama yang berada di bawah koordinasi Kemenko Perekonomian.
“Kami berharap Kemenko Perekonomian dapat mengorkestrasi kementerian dan lembaga terkait agar agenda penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah berjalan terpadu dan berdampak nyata,” katanya.
Airlangga Hartarto menyambut baik gagasan tersebut dan menekankan perlunya langkah teknis yang terstruktur termasuk pemetaan importir di Arab Saudi agar produk Indonesia lebih mudah masuk ke pasar setempat.
Pembangunan warehouse atau pusat distribusi di Arab Saudi dinilai penting agar pelaku usaha ritel setempat lebih mudah mengakses produk Indonesia.
Perdagangan, Logistik, dan Pariwisata
Dalam sektor pangan, inisiasi ekspor beras ke Arab Saudi telah dilakukan melalui kolaborasi lintas kementerian bersama Kementerian Pertanian dan Perum Bulog.
Kemenhaj juga telah mengupayakan ekspor makanan siap saji serta bumbu pasta untuk mendukung kebutuhan konsumsi jamaah di Tanah Suci.
Pertemuan tersebut turut membahas potensi peningkatan kunjungan wisatawan Arab Saudi dan Timur Tengah ke Indonesia melalui promosi destinasi terintegrasi dan harga tiket promo.
Optimalisasi pengiriman logistik jamaah dengan memanfaatkan penerbangan kosong juga menjadi bagian pembahasan.
Pertemuan ini disebut menjadi langkah awal penguatan tata kelola haji dan umrah agar tidak hanya unggul dalam pelayanan ibadah, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
- Penulis :
- Aditya Yohan








