Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Arief Poyuono Sebut Program MBG sebagai Strategi Ekonomi dan Investasi Jangka Panjang Bangsa

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Arief Poyuono Sebut Program MBG sebagai Strategi Ekonomi dan Investasi Jangka Panjang Bangsa
Foto: (Sumber: Politikus Partai Gerindra yang juga Komisaris PT Pelindo (Persero) Arief Poyuono. ANTARA/Dokumentasi Pribadi..)

Pantau - Politikus Partai Gerindra Arief Poyuono menyatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program makan gratis, melainkan strategi ekonomi dan kebijakan pembangunan manusia yang berdampak luas terhadap pertumbuhan nasional.

Arief mengatakan, "MBG bukan sekadar program makan gratis. Ia adalah strategi ekonomi. Ia adalah kebijakan pembangunan manusia dan dalam kerangka PDB (produk domestik bruto), ia mungkin tercatat sebagai belanja negara, tetapi dalam makna yang lebih dalam, ia adalah investasi bangsa," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa jika MBG dipahami hanya sebagai belanja rutin pemerintah, maka program tersebut akan dianggap sebagai beban fiskal.

Arief menegaskan, "Namun, jika ditempatkan sebagai investasi negara dalam pembangunan manusia, maka perspektifnya berubah total: MBG menjadi instrumen strategis pertumbuhan ekonomi," tegasnya.

Investasi SDM dan Dampak pada PDB

Ia menyebut MBG merupakan investasi pada kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam aspek kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi mendatang.

Menurutnya, gizi yang cukup pada usia sekolah terbukti meningkatkan konsentrasi belajar, kehadiran di kelas, serta perkembangan kognitif siswa.

Dalam jangka panjang, peningkatan kualitas tersebut akan bermuara pada produktivitas tenaga kerja yang lebih tinggi.

Arief menyatakan, "Ketika produktivitas naik, pendapatan masyarakat meningkat. Ketika pendapatan meningkat, konsumsi ikut terdorong dan ketika konsumsi menguat, roda ekonomi bergerak lebih cepat. Dengan demikian, investasi negara pada MBG bukan hanya memperbesar komponen 'I' (investasi) dalam rumus PDB, tetapi juga mendorong 'C' (konsumsi rumah tangga) secara simultan," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa peningkatan produktivitas dan konsumsi akan berdampak pada meningkatnya penerimaan pajak.

Basis pajak yang lebih luas dan ekonomi yang lebih sehat dinilai dapat memperkuat kapasitas fiskal negara tanpa harus menaikkan tarif pajak.

Arief mengatakan, "Dalam kondisi ekonomi global yang lesu dan penuh ketidakpastian, instrumen domestik seperti MBG menjadi penting. Tanpa pengungkit internal yang kuat, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa saja tertahan di bawah kisaran 4-5 persen. Namun, dengan dorongan konsumsi domestik dan peningkatan produktivitas akibat investasi pada gizi, pertumbuhan 2025 yang diproyeksikan di kisaran 5,39 persen menjadi lebih realistis," jelasnya.

Riset Internasional dan Efek Berganda Ekonomi

Ia juga menyebut sejumlah penelitian internasional menunjukkan investasi pada program makan bergizi di sekolah memiliki tingkat pengembalian ekonomi yang tinggi.

UNICEF dan Bank Dunia mencatat setiap 1 dolar Amerika Serikat yang diinvestasikan dalam program makan sekolah dapat menghasilkan manfaat ekonomi antara 4 hingga 35 dolar Amerika Serikat.

Arief menuturkan, "Dalam beberapa kajian lintas negara, estimasi pengembalian ekonomi bahkan berada pada kisaran 16-35 dolar (AS) per 1 dolar investasi," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa penelitian terhadap sekitar 100 negara penyelenggara program makan sekolah menunjukkan dampak nyata terhadap ekonomi lokal.

Program tersebut dinilai mampu meningkatkan permintaan produk pertanian lokal, mendukung usaha kecil, serta menciptakan lapangan kerja.

Diperkirakan setiap 100.000 anak yang dilayani program makan sekolah dapat mendorong penciptaan sekitar 1.591 lapangan kerja baru.

Arief mengungkapkan, "Dampak berantai ini menunjukkan bahwa MBG tidak berhenti di ruang kelas. Ia menyentuh petani, nelayan, pelaku UMKM pangan hingga sektor logistik. Dapur-dapur sekolah menjadi simpul ekonomi baru yang menghubungkan kebijakan publik dengan produksi lokal. Dalam konteks Indonesia yang memiliki basis pertanian dan UMKM luas, potensi multiplier effect ini sangat signifikan," ungkapnya.

Penulis :
Aditya Yohan