Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Wakil Ketua Komisi XII DPR Dorong Percepatan Geothermal di Lampung untuk Kemandirian Energi Nasional

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Wakil Ketua Komisi XII DPR Dorong Percepatan Geothermal di Lampung untuk Kemandirian Energi Nasional
Foto: (Sumber: Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, dalam Kunjungan Kerja Reses Komisi XII DPR RI di Bandar Lampung, Provinsi Lampung, Jumat (20/2/2026). Foto: Farhan/Karisma.)

Pantau - Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto menegaskan pentingnya percepatan pengembangan energi panas bumi di Provinsi Lampung yang memiliki potensi hampir 3 gigawatt guna memperkuat kemandirian energi nasional.

Indonesia memiliki total potensi panas bumi sebesar 23,6 gigawatt atau 23.600 megawatt dan menjadi negara dengan potensi geothermal terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Namun tingkat pemanfaatan panas bumi saat ini baru sekitar 10 persen atau sekitar 2,3 gigawatt terpasang meski kapasitas pembangkit nasional telah mencapai lebih dari 2,4 gigawatt di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Sulawesi Utara.

"Kita patut bersyukur karena panas bumi merupakan satu-satunya energi baru terbarukan yang mampu menghasilkan listrik secara baseload, 24 jam penuh tanpa tergantung cuaca. Berbeda dengan energi surya dan bayu yang bersifat intermittent,", ujar Sugeng.

Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas panas bumi dalam RUPTL sebagai bagian dari transisi energi menuju bauran EBT sebesar 23 persen.

Di Lampung, pengembang geothermal meliputi Pertamina Geothermal Energy, PLN Nusantara Power, Supreme Energy, dan Star Energy Geothermal.

Potensi panas bumi dinilai strategis untuk mendukung Lampung sebagai kawasan industri berbasis agro yang berkembang sebagai sentra tebu, singkong, dan kelapa sawit.

"Ke depan, agro tidak hanya food for food tetapi juga food for energy. Lampung bisa menjadi pusat industri etanol berbasis tebu dan molases, sekaligus mendukung pengurangan konsumsi bahan bakar fosil,", jelasnya.

Industri crude palm oil di Lampung juga dinilai mendukung program mandatori biodiesel nasional.

Kapasitas pembangkit mandiri Lampung saat ini sekitar 360 megawatt sedangkan kebutuhan listrik mencapai sekitar 1,2 gigawatt sehingga masih mengimpor sekitar 900 megawatt dari sistem interkoneksi Sumatera bagian selatan.

"Kalau terjadi gangguan besar, tentu berdampak pada masyarakat dan sektor industri. Karena itu, kemandirian energi berbasis renewable energy menjadi kebutuhan mendesak,", tegas Sugeng.

Sugeng menekankan pentingnya sosialisasi kepada masyarakat bahwa pengeboran geothermal berbeda dengan pengeboran lain dan tidak mengganggu cadangan air tanah.

Ia menjelaskan air tanah berada di kedalaman sekitar 500 meter sedangkan pengeboran panas bumi mencapai 2.500 hingga 4.000 meter dengan sistem tertutup atau closed loop melalui reinjeksi air hasil kondensasi.

Praktik tersebut telah diterapkan di Dieng oleh Geo Dipa Energi tanpa kerusakan lingkungan signifikan.

"Aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola tidak bisa ditawar. Ketiganya harus menjadi bagian integral dalam setiap proyek energi maupun industri,", pungkasnya.

Penulis :
Ahmad Yusuf