Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Ramadhan dalam Kesederhanaan, Penyintas Banjir dan Longsor Aceh Bertahan di Tenda Pengungsian

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Ramadhan dalam Kesederhanaan, Penyintas Banjir dan Longsor Aceh Bertahan di Tenda Pengungsian
Foto: (Sumber : Warga terdampak bencana alam menunaikan shalat magrib usai berbuka puasa di musala darurat di Desa Sahraja, Pante Bidari, Aceh Timur, Aceh, Minggu (22/2/2026). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc..)

Pantau - Ratusan warga terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara menjalani Ramadhan 1447 Hijriah dalam tenda pengungsian setelah bencana melanda pada November 2025.

Sebanyak 243 kepala keluarga di Desa Sahraja, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur masih bertahan di hunian darurat karena belum mendapatkan akses hunian sementara.

Di Kabupaten Aceh Utara, sebanyak 326 jiwa dari 85 kepala keluarga Desa Gampong Gunci, Kecamatan Sawang telah menempati hunian darurat selama tiga bulan terakhir.

Tenda-tenda pengungsian bertuliskan BNPB berdiri berderet sebagai penanda hunian darurat yang kini menjadi tempat tinggal sementara para penyintas.

Alih-alih memasang ucapan Marhaban ya Ramadhan, di tempat mereka justru terpasang tulisan Hunian Darurat.

Meski hidup dalam keterbatasan, para penyintas tetap berbagi rezeki kepada sesama, mulai dari makanan hingga air minum.

Suasana Ramadhan di pengungsian terasa hangat sekaligus menyisakan kesedihan karena fasilitas yang terbatas dan kerinduan akan rumah yang hilang.

Kepala Dusun Lhok Pungki Firmadi mengungkapkan kerinduan untuk kembali berkumpul bersama keluarga seperti sebelum bencana terjadi.

Ia mengatakan, “Kami banyak rindu. Biasa kami berkumpul, sekarang di tenda. Bingunglah kami bercerita, tetapi alhamdulillah kami masih aman,”.

Para penyintas tetap menjalankan ibadah puasa, berbuka bersama, serta melaksanakan shalat di musala darurat yang dibangun di sekitar tenda pengungsian.

Tradisi meugang menjelang Ramadhan pun tetap digelar warga Dusun Lhok Pungki di lokasi pengungsian sebagai bentuk menjaga adat dan kebersamaan.

Penulis :
Ahmad Yusuf
Editor :
Tria Dianti