
Pantau - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Eddy Soeparno meminta pemerintah mewaspadai kenaikan harga minyak mentah setelah perang antara Amerika Serikat bersama Israel dengan Iran berlangsung selama sepekan karena berpotensi mengguncang pasar energi global.
Pernyataan tersebut disampaikan Eddy di Jakarta pada Senin terkait dampak konflik tersebut terhadap harga energi dunia.
Ia menjelaskan kenaikan harga minyak mentah diprediksi terjadi akibat konflik bersenjata yang sedang berkecamuk di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak mentah bahkan dilaporkan melonjak lebih dari 30 persen hingga mencapai 107 dolar Amerika Serikat per barel.
"Harga minyak mentah pada asumsi makro APBN adalah 70 dolar AS (per barel) dan defisit terhadap PDB di angka 2,68 persen. Maka dengan kenaikan harga minyak di atas 100 dolar AS per barel, kemungkinan defisit anggaran bisa tembus di atas 3,6 persen". ungkap Eddy.
Dampak Lonjakan Harga terhadap APBN
Eddy menilai kenaikan harga minyak yang sangat cepat dan drastis berpotensi membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dalam jangka waktu yang sulit diprediksi.
Ia menambahkan kenaikan harga minyak mentah juga menjadi tantangan bagi Indonesia karena kebutuhan minyak nasional mencapai sekitar satu juta barel per hari.
Menurutnya kondisi akan semakin berat apabila harga minyak mentah naik signifikan bersamaan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Eddy menjelaskan pada tahun 2025 Indonesia mengimpor sekitar 17,6 juta ton minyak mentah dan 37,8 juta ton produk petroleum.
Nilai impor tersebut tercatat mencapai sekitar 32,8 miliar dolar Amerika Serikat atau setara sekitar Rp551 triliun.
Persaingan Mendapatkan Pasokan Energi
Ia menilai negara-negara besar seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan yang bergantung pada pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah kemungkinan akan mencari sumber alternatif.
Negara-negara tersebut diperkirakan akan mengalihkan pencarian pasokan minyak ke produsen lain seperti Nigeria, Angola, dan Brasil yang juga menjadi pemasok minyak dan gas bagi Indonesia.
Kondisi tersebut berpotensi membuat Indonesia harus bersaing dengan negara-negara pengimpor energi berkapasitas besar untuk mendapatkan suplai minyak mentah.
"Kita perlu mewaspadai kondisi disruptif di pasar energi tidak dari kenaikan harga migas saja, namun ketersediaan pasokan". tegas Eddy.
Meski demikian ia meyakini pemerintah telah menyiapkan alternatif sumber impor dari berbagai negara sehingga Indonesia dapat memiliki diversifikasi sumber pasokan energi.
"Yang betul-betul perlu kita perhatikan adalah sejauh mana ketahanan fiskal dari negara-negara pengimpor migas dalam memenuhi kebutuhan migasnya ketika harga semakin melambung untuk waktu yang cukup panjang". ujarnya.
- Penulis :
- Shila Glorya








