
Pantau - Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan akan meminta PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) mengembangkan pelabuhan di Ketapang Banyuwangi dan Gilimanuk Bali guna mengatasi penumpukan kendaraan saat hari libur besar seperti Nyepi dan Idul Fitri.
Ia mengatakan langkah tersebut difokuskan pada penambahan infrastruktur pelabuhan, terutama di Ketapang yang kerap menjadi titik kepadatan.
"Kami akan meminta kepada Pelindo untuk melakukan pengembangan pelabuhan, khususnya di Ketapang, dengan membuka beberapa dermaga baru," ungkapnya.
Selain itu, di wilayah Gilimanuk diharapkan tersedia area yang bisa dijadikan pelabuhan pasangan sementara untuk menerima kapal dari Ketapang.
Kementerian Perhubungan juga mendorong penyediaan zona penyangga atau buffer zone di Bali untuk mengurai kemacetan dan antrean kendaraan saat arus mudik.
Dudy mengakui keterbatasan lahan di Bali menjadi tantangan dalam penyediaan area tersebut, namun tetap dinilai sebagai solusi penting.
Langkah ini dinilai mendesak karena perayaan Nyepi dan Idul Fitri tahun depan diperkirakan berlangsung berdekatan sehingga berpotensi meningkatkan volume kendaraan secara signifikan.
Pada arus mudik Idul Fitri 2026 sebelumnya, antrean kendaraan menuju Gilimanuk tercatat mencapai 30 hingga 40 kilometer.
Pengembangan Pelabuhan Baru di Bali
Untuk mengurai kepadatan, Kemenhub berencana mengembangkan pelabuhan feri di wilayah utara dan timur Bali guna memecah arus kendaraan.
Pola penanganan ini meniru skema penyeberangan Merak-Bakauheni antara Banten dan Lampung yang dinilai efektif mengurangi antrean.
Salah satu proyek yang akan dikembangkan adalah Pelabuhan Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng Bali.
Pada tahap pertama, Dermaga I akan diperpanjang sekitar 92 meter untuk melayani kapal general cargo dan aspal curah.
Dermaga II akan dikembangkan sebagai dermaga multi purpose dengan tambahan panjang sekitar 60 meter untuk melayani penumpang dan komoditas curah kering.
"Pengembangan Celukan Bawang adalah salah satu progres yang akan kita lakukan untuk pengembangan pelabuhan-pelabuhan lain yang meliputi di Sangsit (Buleleng), kemudian Amed (Karangasem) dan Gunaksa (Klungkung)," jelasnya.
Pemisahan Kendaraan Jadi Solusi
Kemenhub juga menilai perlu adanya pemisahan antara kendaraan berat dan kendaraan kecil dalam sistem penyeberangan.
Hal ini didasarkan pada pengalaman sebelumnya yang menunjukkan kapasitas pelabuhan dan jalan sudah tidak mencukupi untuk menampung seluruh jenis kendaraan secara bersamaan.
"Penyeberangan kemarin itu bahwa kita tidak bisa lagi menyatukan antara kendaraan berat dengan kendaraan-kendaraan kecil, dimana kapasitas pelabuhan maupun jalan sudah tidak memadai lagi," tegasnya.
Sebagai tambahan, pengembangan pelabuhan dan pengaturan lalu lintas ini diharapkan mampu meningkatkan kelancaran arus mudik sekaligus mengurangi risiko kemacetan ekstrem di jalur penyeberangan utama Bali-Jawa.
- Penulis :
- Shila Glorya








