HOME  ⁄  Nasional

BRIN Kembangkan Teknologi Pupuk Nitrogen Ramah Lingkungan Tanpa Emisi Tinggi

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

BRIN Kembangkan Teknologi Pupuk Nitrogen Ramah Lingkungan Tanpa Emisi Tinggi
Foto: (Sumber : Petani melakukan pemupukan di lahan persawahan Desa Tanjunggunung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Selasa (31/1/2023). Pemerintah mengalokasikan pupuk subsidi pada 2023 sebesar 9.013.706 ton terdiri dari pupuk urea sebanyak 5.570.330 ton, nitrogen, fosfor, dan kalium (NPK) 3.232.373 ton, serta NPK formula khusus 211.003 ton dengan total nilai anggaran sekitar Rp24 triliun. ANTARA FOTO/Syaiful Arif/tom.)

Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan metode produksi pupuk nitrogen ramah lingkungan menggunakan teknologi Dielectric Barrier Discharge (DBD) plasma sebagai alternatif dari metode konvensional yang boros energi dan tinggi emisi.

Teknologi Plasma sebagai Alternatif

Peneliti Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) BRIN Deni Swantomo menjelaskan teknologi ini mampu menghasilkan amonia langsung dari air dan gas nitrogen tanpa memerlukan kondisi ekstrem.

"Berbeda dengan metode konvensional, sistem ini dapat beroperasi pada suhu dan tekanan ruang, tanpa memerlukan kondisi ekstrem maupun tambahan gas hidrogen," ujarnya di Jakarta, Jumat (10/4).

Ia menyebut metode konvensional seperti Haber–Bosch masih membutuhkan suhu dan tekanan tinggi serta menghasilkan emisi karbon besar.

Dalam prosesnya, gas nitrogen yang dialiri listrik akan membentuk plasma yang menghasilkan spesies nitrogen reaktif, kemudian bereaksi dengan hidrogen dari air untuk membentuk amonia.

Hasil Uji dan Potensi Pengembangan

Penelitian menunjukkan kondisi optimal dicapai pada laju aliran nitrogen 1,4 liter per menit, daya 75 watt, jarak elektroda 1 sentimeter, serta penggunaan air deionisasi dengan pH sekitar 5.

Pada kondisi tersebut, konsentrasi amonia mencapai 19,7 parts per million (ppm) dalam waktu 30 menit.

Deni menambahkan penggunaan air dengan kemurnian tinggi memberikan hasil lebih optimal, sementara paparan sinar ultraviolet justru menurunkan produksi amonia.

"Penggunaan air dengan tingkat kemurnian tinggi memberikan hasil yang lebih optimal. Sebaliknya, paparan sinar UV cenderung menurunkan konsentrasi amonia, karena memicu proses penguraian kembali," jelasnya.

Meski masih dalam tahap laboratorium, teknologi ini dinilai memiliki potensi besar sebagai solusi produksi pupuk yang lebih efisien dan berkelanjutan.

"Pendekatan ini membuka peluang pengembangan teknologi produksi pupuk yang lebih berkelanjutan dan hemat energi. Sistemnya relatif sederhana, tidak membutuhkan katalis mahal, serta dapat beroperasi dalam kondisi normal," tutup Deni.

Sebagai informasi tambahan, pengembangan teknologi ini diharapkan mendukung ketahanan pangan dan mengurangi dampak lingkungan dari industri pupuk global.

Penulis :
Ahmad Yusuf