HOME  ⁄  Nasional

Aktivitas Gempa Gunung Marapi Didominasi Hembusan dan Tremor Non Harmonik, Status Tetap Waspada

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Aktivitas Gempa Gunung Marapi Didominasi Hembusan dan Tremor Non Harmonik, Status Tetap Waspada
Foto: (Sumber : Gunung Marapi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. ANTARA/Muhammad Zulfikar.)

Pantau - Badan Geologi Kementerian ESDM melaporkan aktivitas kegempaan Gunung Marapi di Sumatera Barat masih didominasi gempa hembusan dan tremor non harmonik berdasarkan evaluasi periode 16-31 Maret 2026.

Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan dominasi aktivitas tersebut terlihat dari hasil pemantauan visual dan instrumental.

"Data kegempaan Gunung Marapi didominasi oleh gempa hembusan dan tremor non harmonik," ujarnya.

Rincian Aktivitas Kegempaan dan Visual Gunung

Dalam periode tersebut tercatat lima kali gempa letusan, 46 gempa hembusan, 19 tremor harmonik, 79 tremor non-harmonik, 10 gempa low frequency, 14 gempa vulkanik dangkal, 31 gempa vulkanik dalam, 38 gempa tektonik lokal, dan 43 gempa tektonik jauh.

Secara visual, Gunung Marapi yang berada di Kabupaten Agam dan Tanah Datar terlihat jelas hingga tertutup kabut, dengan asap kawah utama berwarna putih berintensitas tipis hingga sedang setinggi 50-800 meter dari puncak.

Erupsi jarang teramati karena kondisi cuaca berkabut yang kerap menutupi puncak gunung.

Status Waspada dan Imbauan Masyarakat

Berdasarkan analisis menyeluruh hingga 31 Maret 2026, status Gunung Marapi tetap berada pada Level II atau waspada.

Badan Geologi melarang masyarakat, pendaki, dan wisatawan memasuki radius tiga kilometer dari Kawah Verbeek sebagai pusat aktivitas.

Selain itu, warga yang tinggal di sekitar aliran sungai berhulu di gunung diminta mewaspadai potensi banjir lahar, terutama saat hujan.

"Jika terjadi hujan abu masyarakat diimbau menggunakan masker penutup hidung dan mulut untuk menghindari gangguan saluran pernapasan," kata Lana.

Informasi tambahan, aktivitas Gunung Marapi terus dipantau intensif guna mengantisipasi potensi peningkatan aktivitas vulkanik.

Penulis :
Aditya Yohan