
Pantau - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyatakan dana otonomi khusus (otsus) untuk Provinsi Aceh perlu diperpanjang guna mendukung pemulihan pascabencana banjir bandang yang melanda berbagai wilayah.
Pernyataan tersebut disampaikan Tito saat menghadiri rapat bersama Komisi II DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Senin, 13 April 2026.
Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan perhitungan Kementerian Dalam Negeri, proses pemulihan pascabencana di Aceh diperkirakan membutuhkan waktu paling cepat tiga tahun.
Kebutuhan Pemulihan Infrastruktur dan Fasilitas Publik
Tito menjelaskan bahwa lamanya proses pemulihan disebabkan banyaknya fasilitas publik yang mengalami kerusakan, termasuk jembatan dan jalan yang saat ini masih bersifat sementara dan perlu dipermanenkan.
Selain infrastruktur jalan, fasilitas pendidikan juga turut terdampak dan membutuhkan perbaikan menyeluruh.
Data pemerintah menunjukkan sekitar 36 ribu rumah masyarakat di Aceh mengalami kerusakan atau hilang akibat bencana tersebut.
Pemerintah daerah juga menghadapi kebutuhan besar untuk melakukan normalisasi sungai dalam skala luas guna mencegah bencana serupa terulang.
"Normalisasi sungai itu lebih kurang 79 sungai yang harus dikeruk dan itu panjang. Selain lebar juga panjang, ada yang sampai 30-an kilometer," ungkapnya.
Otsus Dinilai Rasional di Tengah Kondisi Bencana
Tito menilai perpanjangan dana otsus menjadi salah satu solusi untuk mempercepat pemulihan, terutama jika kemampuan fiskal negara memungkinkan.
"Mungkin salah satu pendorong kalau menurut kami perlu adanya dana otsus ini diperpanjang di Aceh, kalau memang kemampuan fiskal negara memungkinkan," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi Aceh saat ini masih menghadapi tantangan meskipun Indeks Pembangunan Manusia mengalami peningkatan, karena tingkat kemiskinan dan pengangguran masih tergolong tinggi.
Masyarakat Aceh juga menginginkan agar dana otsus diperpanjang dengan besaran 2 persen dari Dana Alokasi Umum.
"Dan kalau kami melihat dari situasi, apalagi ada bencana, kami melihat cukup rasional. Karena bencana ini yang kemarin terjadi bulan November ini," katanya.
Dalam perkembangan terbaru, hujan lebat kembali terjadi dan memicu longsor di sejumlah titik di Aceh, sementara dua hari sebelum pernyataan tersebut banjir kembali melanda wilayah Pidie Jaya disertai material lumpur.
Kondisi tersebut menyebabkan kerusakan kembali pada infrastruktur yang sebelumnya telah diperbaiki oleh pemerintah dan masyarakat.
"Inilah situasi lapangan, jalan yang putus lagi, padahal sudah dibuka. Ini sekarang sedang kerja keras semua dari TNI, Polri, kemudian Kementerian PU, BNPB, semua sedang bekerja untuk melakukan normalisasi kembali," ungkapnya.
- Penulis :
- Leon Weldrick








