HOME  ⁄  Nasional

Megawati Terima Diplomat Irak di Menteng, Bahas Geopolitik Timur Tengah dan Perkuat Hubungan Bilateral

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Megawati Terima Diplomat Irak di Menteng, Bahas Geopolitik Timur Tengah dan Perkuat Hubungan Bilateral
Foto: Presiden Ke-5 Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menerima Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar Irak untuk Indonesia Ammar Hameed Saadallah Al-Khalidy untuk membahas situasi terkini di Timur Tengah dan upaya mempererat hubungan Indonesia dan Irak di kediamannya, Menteng, Jakarta, Senin 27/4/2026 (sumber: PDIP)

Pantau - Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Irak untuk Indonesia Ammar Hameed Saadallah Al-Khalidy di kediamannya di Menteng, Jakarta, pada 27 April 2026 untuk membahas situasi geopolitik Timur Tengah dan penguatan hubungan bilateral kedua negara.

Kilas Balik Hubungan Indonesia-Irak

Al-Khalidy mengawali pertemuan dengan mengenang kunjungan Presiden Soekarno ke Baghdad pada 1961 yang disambut Abdel Karim Qassim sebagai momen penting dalam sejarah hubungan kedua negara.

Ia menyampaikan, "Kami masih menyimpan film dokumenter kunjungan bersejarah tersebut."

Kunjungan tersebut disebut bertujuan memperkuat hubungan diplomatik, mendukung kemerdekaan Palestina, serta mempererat solidaritas negara dunia ketiga.

Al-Khalidy menegaskan hubungan diplomatik Indonesia dan Irak telah terjalin sejak 1950, dengan Irak termasuk negara yang cepat mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1947.

Ia mengatakan, "Hubungan Indonesia dan Irak sudah masuk tahun ke-76, kami terus berharap tetap kuat dan hangat, kami juga tahu sikap Ibu Megawati saat menjadi presiden yang menolak serangan terhadap Irak tahun 2003."

Sikap Politik atas Konflik Timur Tengah

Terkait konflik kawasan, Al-Khalidy menyampaikan sikap resmi Irak yang mengutuk serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta serangan balasan Iran.

Ia menegaskan, "Pemerintah kami secara resmi mengutuk serangan AS dan Israel ke Iran, namun juga mengutuk serangan balasan Iran terhadap negara-negara tetangganya. Kami menolak perang ini, kami menjunjung tinggi mekanisme dialog, negosiasi dan perdamaian."

Megawati menilai serangan terhadap Iran sebagai pelanggaran kedaulatan negara dan bertentangan dengan hukum internasional serta prinsip Dasa Sila Bandung.

Ia menyatakan, "Saya ini berteman dengan George W Bush, Presiden AS saat itu, tapi sikap politik kami berbeda, saya menolak serangan AS terhadap Irak tahun 2003 saat saya masih Presiden Indonesia."

Megawati juga mengingat peristiwa 11 September 2001 dan menolak mengaitkan terorisme dengan Islam.

Ia mengungkapkan, "Saya presiden pertama yang datang ke AS setelah peristiwa 11 September bertemu Presiden Bush menyampaikan simpati saya dan mengutuk terorisme, tapi saya juga menyampaikan penolakan saya mengaitkan terorisme dengan ajaran Islam."

Megawati menjelaskan pandangan geopolitiknya dipengaruhi pemikiran Bung Karno dan Konferensi Asia-Afrika di Bandung sebagai cikal bakal Gerakan Non-Blok.

Al-Khalidy menanggapi bahwa ia pernah mempelajari hasil Konferensi Asia-Afrika dan isu reformasi PBB saat kuliah serta bertugas sebagai diplomat.

Ia menyebutkan, "Ternyata Bung Karno sudah melontarkan ide reformasi PBB di tahun 1960 melalui pidatonya, jauh sebelum pembahasan masalah reformasi PBB yang ramai dibahas sejak tahun 1993."

Pertemuan diakhiri dengan pertukaran cinderamata antara kedua pihak.

Megawati memberikan buku tentang Pancasila, pidato Bung Karno di PBB, biografi dirinya dalam bahasa Arab, miniatur Candi Borobudur, serta kain tenun Endek Bali.

Ia mengatakan, "Harapan saya, kalau Yang Mulia memakai baju ini akan selalu ingat saya dan Indonesia."

Al-Khalidy menjawab, "Tentu yang Mulia."

Pihak Irak memberikan lukisan khas Baghdad dan manisan tradisional al manna wa salwa, sementara Megawati didampingi Hasto Kristiyanto, Eriko Sotarduga, Rokhmin Dahuri, dan M. Guntur Romli dalam pertemuan tersebut.

Penulis :
Leon Weldrick