
Pantau - DPR RI menyoroti soal penyebab buruknya kualitas udara di Jakarta akibat industri dan pemukiman yang tidak memiliki tata ruang yang baik.
“Sekitar Bekasi, contohnya daerah industri kecil-kecil, mereka juga menggunakan Solar, menggunakan pembangkit yang kecil tetapi juga ada batu bara,” ucap Anggota Komisi VII DPR RI Andi Yuliani Paris, Senin (11/9/2023).
Andi mengemukakan, faktor transportasi juga menjadi penyumbang polusi udara di Jakarta. Meski saat ini, PT Pertamina sudah melakukan pergantian BBM dari Premiun dengan RON 88 ke Pertalite dengan RON 90.
“Nah, kita tahu bahwa transportasi di Kota Jakarta ini banyak kendaraan motor roda dua, yang mayoritas bisa dikatakan 100% menggunakan Pertalite. Artinya, Pertalite belum bisa dikategorikan clean energy,” jelasnya.
Andi juga berpendapat, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Suralaya, Banten bukan faktor utama penyebab polusi.
Andi menilai, PLTU tersebut telah menggunakan teknologi untuk menyaring polutan hasil pembakaran batu bara. Seperti halnya, pemasangan Electrostatic Precipitator (ESP) serta alat pemantau emisi Continuous Emission Monitoring System (CEMS).
“PLTU Suralaya telah menggunakan teknologi yang mampu menyaring partikel-partikel yang berpotensi menjadi polutan,” pungkasnya.
Untuk itu, ia mengimbau kepada para kepala daerah di sekitar Jakarta untuk duduk bersama dengan Gubernur DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat untuk memetakan wilayah industri dan memperbaiki tata ruangnya.
“Perlu duduk bersama antara ketiga Gubernur ini, Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Banten dan Gubernur Jawa Barat untuk memetakan wilayah-wilayah industri dan juga tata ruangnya juga diperbaiki,” katanya.
- Penulis :
- Aditya Andreas
- Editor :
- Fadly Zikry









