Pantau Flash
HOME  ⁄  News

Jumlah Pengungsi Banjir Bandang Maninjau Meningkat Jadi 428 Orang, Jalan Provinsi Putus Total

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Jumlah Pengungsi Banjir Bandang Maninjau Meningkat Jadi 428 Orang, Jalan Provinsi Putus Total
Foto: (Sumber: Kondisi rumah di Pasar Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam terdampak banjir bandang, Kamis (1/1/2026). ANTARA/Yusrizal.)

Pantau - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, Sumatera Barat, melaporkan bahwa jumlah pengungsi akibat banjir bandang di Muaro Pisang, Pasar Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, bertambah menjadi 428 orang.

Sebelumnya, jumlah pengungsi tercatat 314 orang, namun kembali meningkat setelah banjir susulan terjadi pada Kamis, 1 Januari 2026.

"Sebelumnya pengungsi hanya 314 orang dan kini bertambah menjadi 428 orang," ungkap Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam, Abdul Ghafur.

Dampak Banjir dan Kronologi Kejadian

Selain jumlah pengungsi, jumlah kepala keluarga terdampak juga meningkat dari 100 menjadi 160 KK.

Para pengungsi saat ini menempati mushala, rumah keluarga, dan fasilitas pemerintahan.

Mereka berasal dari wilayah yang rumahnya rusak dan berada di zona merah sepanjang aliran Sungai Muaro Pisang.

Banjir bandang menyebabkan kerusakan berat pada empat unit rumah, tiga warung, dan dua penginapan.

Abdul Ghafur menjelaskan bahwa banjir di kawasan ini sudah terjadi beberapa kali akibat meluapnya Sungai Muaro Pisang.

Peristiwa banjir bandang terbaru dipicu oleh longsor yang terjadi pada Rabu malam, 31 Desember 2025, di tebing jalan Kelok 25, Jorong Kuo Tigo Koto, Nagari Matua Mudik, Kecamatan Matur.

Material longsor menyumbat aliran sungai, sehingga air mencari jalur baru ke arah Simpang Maninjau sambil membawa material lumpur dan bebatuan.

Jalan Provinsi Tertimbun dan Putus Total

Material banjir juga menimbun badan jalan provinsi penghubung Lubuk Basung – Bukittinggi sepanjang 30 meter dengan tinggi material mencapai 1 meter, menyebabkan akses jalan tersebut putus total.

Pada Jumat pagi, 2 Januari 2026, alat berat mulai dikerahkan untuk membersihkan material yang menimbun jalan tersebut.

Hasil pemantauan dari Kelok 9 hingga Kelok 25 menunjukkan bahwa tidak ditemukan material longsor lain yang menutupi aliran Sungai Muaro Pisang.

BPBD terus melakukan penanganan darurat dan pendataan lanjutan terhadap warga terdampak.

Penulis :
Gerry Eka