Pantau Flash
HOME  ⁄  News

Harapan Tahun Baru Anak-Anak Korban Perang di Timur Tengah: Dari Gaza hingga Sudan

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Harapan Tahun Baru Anak-Anak Korban Perang di Timur Tengah: Dari Gaza hingga Sudan
Foto: (Sumber: Matahari terbenam dilihat dari tempat penampungan sementara bagi pengungsi di Kota Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, pada 31 Desember 2025. (ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad).)

Pantau - Tahun Baru bagi anak-anak di zona konflik Timur Tengah bukanlah simbol harapan dan awal baru, melainkan pengingat akan kehilangan dan kehancuran yang terus membentuk hidup mereka.

Di tempat-tempat seperti tenda pengungsian di Gaza, kamp di Sudan, dan perbukitan Lebanon selatan, generasi muda tumbuh bukan dengan impian, tetapi dengan ketahanan menghadapi perang.

Gaza: Harapan Sederhana dari Tenda Pengungsian

Mohammad Hamad, anak laki-laki berusia 11 tahun, tinggal di sebuah tenda putih dari nilon di pasir Al-Mawasi, Gaza selatan, bersama enam anggota keluarganya.

Sejak perang dimulai, mereka telah mengungsi sebanyak delapan kali, meninggalkan rumah di Beit Hanoun, Gaza utara, yang kini hancur.

Ayahnya kehilangan anggota tubuh, dan Hamad kehilangan masa kecilnya—digantikan oleh rutinitas mengangkut air dan menunggu jatah makanan.

Sebelum konflik, Hamad adalah pelajar rajin yang mencintai kelas dan buku-buku catatannya.

Kini, ruang kelas berubah menjadi puing reruntuhan atau tempat pengungsian.

Trauma perang hadir setiap malam dalam bentuk mimpi buruk dan suara dentuman yang tiba-tiba.

“Saya berharap kita tidak pernah kembali mengalami apa yang telah kita lalui,” ungkap Hamad mengenai harapan Tahun Barunya.

Bagi Hamad, perdamaian bukan konsep politik, melainkan hal-hal sederhana: suara burung di pagi hari dan jalur aman menuju sekolah.

Sudan: Mimpi Jadi Dokter Setelah Kehilangan Ayah

Di Sudan, Awab Mohamed Abdel-Rahim, 13 tahun, kini tinggal bersama ibu dan saudara-saudaranya di kamp pengungsi di El Obeid, Sudan tengah.

Mereka melarikan diri dari Kota Babanusa setelah sang ayah meninggal dunia karena tidak tersedianya obat-obatan di rumah sakit.

“Ayah saya meninggal karena obat-obatan tidak tersedia,” kata Abdel-Rahim, mengenang hari-hari terakhir ayahnya yang melemah tanpa bantuan medis.

Setiap hari ia menyaksikan penderitaan ayahnya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Kehilangan itu menumbuhkan tekad besar dalam dirinya untuk menjadi dokter, agar anak-anak lain tidak harus kehilangan orang tua karena sistem kesehatan yang lumpuh oleh perang.

Harapan Tahun Barunya sederhana dan penuh makna: “Saya berharap tidak ada anak yang kehilangan ayahnya akibat perang.”

Harapan yang Lahir dari Ketakutan dan Kehilangan

Di tengah reruntuhan dan kamp pengungsian, anak-anak seperti Hamad dan Abdel-Rahim menyimpan harapan yang jauh dari kemewahan: kedamaian, keamanan, dan hak dasar untuk hidup dan belajar.

Di wilayah yang diwarnai konflik bertahun-tahun, Tahun Baru bukan perayaan, melainkan pengingat bahwa bertahan hidup saja sudah merupakan pencapaian besar.

Penulis :
Gerry Eka