
Pantau - Personel gabungan TNI-Polri dikerahkan untuk membersihkan lumpur tebal di SD Negeri 1 Kualasimpang, Aceh Tamiang, dalam upaya percepatan pemulihan pascabanjir agar kegiatan belajar mengajar dapat segera kembali normal.
Tugas Manual di Tengah Kendala Akses dan Infrastruktur
Komandan Tim (Dantim) 1 SST 3 Yon Zipur 10/Jaladri Palaka Divisi 2/Infanteri Kostrad, Letda Cke Yudha Bahtiar, menyampaikan bahwa timnya diperbantukan dalam pembersihan sekolah sebagai bagian dari penanganan bencana banjir yang melanda wilayah tersebut.
“Kami diperbantukan membantu di SD Negeri 1 Kuala Simpang, Aceh Tamiang, dalam rangka pasca penyelesaian atau membantu pembersihan di sekolahan ini,” ungkap Letda Yudha.
Proses pembersihan dilakukan secara manual selama hampir 10 hari menggunakan arco, cangkul, dan sekop, karena alat berat seperti ekskavator dan dump truck tidak bisa masuk ke area sekolah.
Hal ini disebabkan bagian depan bangunan SDN 1 Kualasimpang merupakan cagar budaya, sehingga tidak diperbolehkan ada pembongkaran untuk memasukkan alat berat.
Meski terbatas, Letda Yudha menegaskan personelnya tetap bekerja maksimal dengan menggunakan jalur pembersihan normal dan peralatan dari komando atas, serta menjaga agar bangunan sekolah tidak rusak.
Ruang Kelas Tergenang, Target Selesai dalam Dua Pekan
Lebih dari 10 ruang kelas terdampak lumpur, dengan ketinggian lumpur mencapai selutut di luar ruangan dan sepinggang orang dewasa di dalam beberapa ruang kelas.
Perbedaan ketinggian lumpur ini disebabkan kontur bangunan sekolah yang lebih rendah dibandingkan halaman, sehingga lumpur terjebak dan harus diangkat secara manual.
Operasi pembersihan melibatkan sekitar 35 personel TNI-Polri setiap hari, serta tambahan 20 taruna Akmil dan Akpol selama dua hari terakhir, total mencapai 55 personel.
Kendala utama yang dihadapi tim adalah keterbatasan pasokan air untuk membersihkan lantai dan dinding, karena hanya tersedia tandon kecil dan suplai air bergilir dari pemadam kebakaran.
Letda Yudha berharap adanya dukungan sumur bor untuk mempercepat pembersihan, khususnya pada lumpur yang sudah mengeras dan menempel kuat di keramik dan dinding ruang kelas.
Pembersihan dilakukan setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga 17.30 WIB, tergantung cuaca dan tingkat risiko keselamatan personel.
Hujan deras menjadi tantangan tersendiri karena berisiko menyebabkan tergelincir dan kecelakaan kerja di lapangan.
Hingga kini, sekitar tujuh ruang kelas telah dibersihkan dan sebagian sudah kembali difungsikan sebagai ruang belajar.
Target pembersihan seluruh area sekolah diperkirakan rampung dalam dua pekan ke depan, sebelum personel gabungan dialihkan untuk membantu sektor lain yang masih terdampak parah.
- Penulis :
- Gerry Eka







