Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Pertambangan

Tekanan Biaya Meningkat, PT Vale Tetap Lampaui Target Produksi dan Penjualan di 2025

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Tekanan Biaya Meningkat, PT Vale Tetap Lampaui Target Produksi dan Penjualan di 2025
Foto: Direktur Utama PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto usai rapat dengar pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin 19/1/2025 (sumber: ANTARA/Aria Ananda)

Pantau - PT Vale Indonesia Tbk menghadapi tekanan biaya operasional akibat kenaikan royalti dan kewajiban penggunaan biodiesel B40, di tengah tren penurunan harga nikel sepanjang tahun 2025.

Direktur Utama PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, menyatakan bahwa harga nikel pada 2025 lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Realisasi harga nikel sepanjang tahun 2025 ini di bawah dari apa yang kita harapkan," ungkapnya.

Meski harga komoditas utama menurun, PT Vale mencatat kinerja produksi dan penjualan yang melampaui target anggaran hingga akhir 2025, sembari menunggu hasil audit resmi.

Produksi nikel matte dan penjualan bijih menunjukkan pertumbuhan positif, sementara biaya produksi di fasilitas Sorowako berada di kisaran 9.000 dolar AS per ton.

Tekanan Biaya dan Strategi Perusahaan

Bernardus menjelaskan bahwa tekanan biaya operasional bersumber dari sejumlah kebijakan yang diterapkan pemerintah.

“Tidak ada kebijakan yang sifatnya menghambat,” ia mengungkapkan, “namun tetap memberi tekanan pada biaya operasi.”

Kebijakan tersebut antara lain mencakup kenaikan tarif royalti dan implementasi B40.

Implementasi biodiesel B40 perlu disiasati secara cermat karena menyangkut keandalan peralatan dan kelangsungan operasional di lapangan.

Bernardus menegaskan bahwa perusahaan tetap berupaya menjaga margin positif di tengah tantangan tersebut.

"Kita tidak perlu menyikapi dengan panik," ujarnya dalam rapat tersebut.

Pendapatan dan Penyesuaian Operasional

Hingga November 2025, PT Vale Indonesia Tbk berhasil mencatatkan pendapatan sebesar 902 juta dolar AS, meskipun harga nikel global berada di bawah ekspektasi.

Capaian ini didukung oleh realisasi produksi dan penjualan yang melebihi target anggaran.

Perusahaan juga menyesuaikan rencana operasional seiring kebijakan pengendalian produksi yang diterapkan oleh pemerintah.

Penyesuaian tersebut dilakukan secara bertahap guna memastikan tidak terganggunya kinerja jangka menengah.

Dalam kesempatan itu, Bernardus juga menegaskan komitmen perusahaan terhadap proyek-proyek hilirisasi nikel yang tengah berjalan bersama mitra strategis.

"Adaptasi terhadap kebijakan biaya dan produksi perlu dibahas secara berkelanjutan agar tidak menimbulkan kendala dalam pemenuhan komitmen jangka panjang perusahaan," tambahnya.

Penulis :
Leon Weldrick