Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Teknologi & Sains

Pemerintah Dorong Pendidikan Hibrida untuk Percepat Digitalisasi dan Atasi Kesenjangan 3T

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Pemerintah Dorong Pendidikan Hibrida untuk Percepat Digitalisasi dan Atasi Kesenjangan 3T
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Sejumlah siswa melakukan pendaftaran Sekolah Menengah Pertama (SMP) secara daring (online) di SMPN 1 Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (2/7/2018). ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah.)

Pantau - Pemerintah mempercepat digitalisasi pendidikan nasional melalui kebijakan pembelajaran berbasis hibrida guna mengatasi kesenjangan kualitas pendidikan di wilayah terdepan, terluar, dan terpencil atau 3T.

Kebijakan pendidikan hibrida menjadi arah baru sistem pendidikan nasional sebagai upaya mengejar ketertinggalan kualitas sumber daya manusia akibat hambatan geografis.

Pemerintah menargetkan pemasangan perangkat interactive flat panel di 288.000 sekolah di seluruh Indonesia.

Langkah ini menandai pergeseran paradigma dari pembangunan fisik menuju digitalisasi pembelajaran.

Pendidikan tidak lagi bergantung pada gedung, melainkan pada kualitas pengajaran dan akses terhadap teknologi.

Melalui sistem ini, siswa di berbagai wilayah dapat memperoleh materi yang sama dari guru terbaik tanpa terhambat jarak.

Model yang diterapkan adalah konsep dual teacher class, di mana guru utama mengajar dari studio pusat dengan dukungan teknologi multimedia, sementara guru lokal berperan sebagai fasilitator, mentor, dan pembentuk karakter siswa.

“Pemerintah harus memastikan bahwa "studio pusat" tidak menjadi menara gading fabrikasi konten searah. Harus ada ruang dialektika antara pusat dan daerah. Selain itu, ketergantungan pada energi juga menjadi catatan.”

Keberhasilan pendidikan hibrida sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur internet yang stabil.

Pemerintah melakukan penguatan jaringan melalui pembangunan serat optik dan optimalisasi menara pemancar.

Pemanfaatan Satelit SATRIA-1 juga dilakukan untuk menjangkau wilayah yang masih mengalami blank spot.

Koneksi internet yang stabil tanpa jeda menjadi syarat utama agar pembelajaran dapat berlangsung efektif.

Solusi teknis seperti penyimpanan materi di server sekolah disiapkan untuk mengatasi keterbatasan jaringan.

Selain itu, tantangan utama juga terletak pada literasi digital tenaga pendidik, khususnya di daerah.

Guru dituntut mampu mengolah materi digital menjadi pembelajaran yang interaktif dan menarik.

Ketersediaan energi listrik yang stabil juga menjadi perhatian, dengan penggunaan panel surya sebagai alternatif di wilayah terpencil.

Model pendidikan berbasis digital sejalan dengan tren global yang telah diterapkan di berbagai negara seperti Estonia dan Australia.

Teknologi memungkinkan distribusi pengetahuan tanpa batas geografis sehingga siswa di daerah terpencil dapat mengakses pendidikan setara dengan di kota besar.

Pendidikan hibrida juga menjadi bagian dari upaya membangun kedaulatan digital nasional.

Sistem ini diharapkan menjadi saraf pusat distribusi pengetahuan di seluruh Indonesia.

Program tersebut merupakan langkah strategis untuk menciptakan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Pengawasan publik dinilai penting agar implementasi kebijakan berjalan efektif dan tidak sekadar menjadi angka statistik.

Penulis :
Gerry Eka