Pantau Flash
Berbeda dengan Muhammadiyah, PBNU Tetap Ikut POP Kemendikbud
Bukan 29 tapi 31 Perkantoran di DKI Dinyatakan Ditutup Akibat COVID-19
8 Anggota Paskibraka akan Kibarkan Merah Putih di Istana pada HUT RI
Bio Farma Lakukan Uji Klinis Tahap Ketiga Vaksin COVID-19 Hari Ini
Kasus Positif COVID-19 di RI Mencapai 118.753 per 6 Agustus 2020

Huft! Cerita Ekonomi Indonesia yang Mengalami Tekanan di 2019

Huft! Cerita Ekonomi Indonesia yang Mengalami Tekanan di 2019 Kantor Dirjen Pajak (Foto: Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Dinamika perekonomian global terasa di perekonomian domestik, salah satunya yaitu kelesuan penerimaan pajak. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan mengumumkan, realisasi penerimaan perpajakan selama Januari-Oktober 2019 adalah Rp1.173,9 triliun.

Jumlah di atas baru 65,7 persen dibandingkan target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang sebesar Rp1.786,4 triliun. Berdasarkan jenis pajak, kontribusi terbesar adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Dalam Negeri. Sepanjang Januari-Oktober 2019, jumlah penerimaan PPN DN adalah Rp234,8 triliun atau 23,1 persen dari total penerimaan pajak.

Pada Januari-Oktober 2018, penerimaan PPN DN mampu tumbuh 8,9 persen. Namun tahun ini, yang ada malah terkontraksi atau turun 2,4 persen year-on-year (YoY). Kontributor terbesar kedua adalah Pajak Penghasilan (PPh) Badan. Hingga Oktober, realisasi penerimaan PPh Badan adalah Rp192,6 triliun, 18,9 persen dari total penerimaan pajak.

Baca juga: Hati-hati! Penunggak Pajak Kendaraan, Kamu Bisa Masuk Bui Lho

Dibandingkan dengan Januari-Oktober 2018, penerimaan PPh Badan turun 0,7 persen. Sejatinya pada Januari-Oktober 2018, penerimaan PPh Badan melonjak 25,2 persen YoY.

Untuk penyumbang ketiga terbesar adalah PPh 21, yang pada Januari-Oktober tercatat Rp 121,27 triliun (11,9%). PPh 21 masih tumbuh 9,8% YoY, tetapi melambat karena pada Januari-Oktober 2018 membukukan kenaikan 17 persen YoY.

"Ada cerita sektor ekonomi yang mengalami tekanan, yaitu pertambangan dan industri. Namun ada sektor yang tumbuh yakni jasa keuangan, serta transportasi dan pergudangan. Penerimaan pajak kita teliti dari bulan ke bulan, dan pada Oktober memang ada perlambatan PPh 21 tetapi harus kita lihat dalam tren sehat. Meski perusahaan mengalami tekanan, pajak pekerja masih tumbuh mendekati 10%," ujar Menteri Keuangan, Sri Mulyani, Senin (18/11/2019).

"PPh Badan memang negatif, tetapi pada Oktober saja ada rebound ke 8,5%. Jadi kita lihat turning point dan harapan awal agar tren positif tetap dijaga," paparnya.

Baca juga:  Gengs... di Lebanon, Pengguna WhatsApp Kena Pajak Rp30.000

Sementara itu, Suryo Utomo, Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, mengatakan bahwa penerimaan pajak tertekan karena sektor migas. Hingga Oktober, PPh dari migas turun 9,3% YoY, padahal pada 2018 bisa tumbuh 17 persen.

"Ini karena penurunan harga minyak di pasar internasional," kata Suryo.

Sementara PPh Non-Migas, Suryo masih mencatat pertumbuhan hanya 3,3 persen YoY. Jauh melambat ketimbang Januari-Oktober 2018 yang sebesar 17 persen. "Jadi koreksinya lumayan. Namun demikian, PPh Non-Migas masih tumbuh," tukasnya.

Tim Pantau
Editor
Tatang Adhiwidharta

Berita Terkait: