Pantau Flash
Bawaslu Tegaskan ASN Tidak Netral Jika Petahana Ikut Pilkada
Wagub DKI: Belum Ada Tanda Lonjakan Kasus COVID-19 Akibat Demo
Publik Bisa Akses Seluruh Naskah UU Ciptaker Setelah Diteken Presiden
Kasus Positif COVID-19 di Indonesia Jadi 381.910 per 23 Oktober
Polri Tetapkan 8 Tersangka Kebakaran Kejaksaan Agung

Sri Mulyani: Negara G20 Harus Hindari Penarikan Stimulus Terlalu Dini

Headline
Sri Mulyani: Negara G20 Harus Hindari Penarikan Stimulus Terlalu Dini Ilustrasi - Para jurnalis duduk di media center selama pertemuan para menteri keuangan G20 dan gubernur bank sentral di Riyadh, Arab Saudi. (ANTARA/REUTERS / Ahmed Yosr)

Pantau.com - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati menegaskan, negara-negara yang tergabung pada G20 harus menghindari penarikan stimulus terlalu dini guna mendukung pemulihan agar berada di jalur yang benar.

Hal itu disampaikan Sri Mulyani dalam pertemuan para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 yang diselenggarakan secara virtual.

“Pemulihan ekonomi yang parsial dan tidak merata dapat membawa prospek ekonomi global jauh dari tingkat sebelum pandemi,” katanya dalam keterangan resmi Kemenkeu yang diterima di Jakarta, Jumat (16/10/2020).

Menurutnya, stimulus harus terus diberikan karena perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian yang tinggi meskipun telah terdapat tanda-tanda pemulihan secara bertahap.

Baca juga: Menkeu: Negara G20 Terus Lakukan Aksi Global Lawan COVID-19

Terlebih lagi, International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook terbaru memperkirakan perekonomian global akan tumbuh negatif 4,4 pada 2020. “Ketersediaan dan akses atas vaksin sangat penting dalam penanganan COVID-19 dan mendukung pemulihan ekonomi,” ujarnya.

Ia memastikan, Indonesia berkomitmen untuk menggunakan semua perangkat kebijakan termasuk melalui policy mix antara kebijakan fiskal, moneter dan struktural dalam mendukung pemulihan ekonomi.

“Indonesia baru saja mengesahkan Omnibus Law Cipta Kerja guna mendukung investasi dan penciptaan lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Lebih lanjut, dalam pertemuan tersebut para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 menegaskan kembali komitmennya menggunakan semua kebijakan luar biasa untuk mengatasi dampak pandemi.

Baca juga: Di Pertemuan G20, Mentan Tekankan Pentingnya Pertanian Saat Pandemi

Hal itu dilakukan dalam rangka melindungi masyarakat, memastikan ketersediaan lapangan kerja, pemulihan ekonomi, dan ketahanan sistem keuangan dengan secara hati-hati dalam mengelola potensi risiko terhadap penurunan ekonomi.

Oleh sebab itu, pertemuan G20 ini juga mengesahkan pembaruan G20 Action Plan yang mencakup prinsip-prinsip dan langkah-langkah nyata atas kebijakan dan komitmen dalam menangani pandemi.

Pembaruan G20 Action Plan juga dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif.

Tak hanya itu, pertemuan G20 ini turut menyepakati perpanjangan implementasi program penundaan pembayaran kewajiban utang bagi negara-negara miskin melalui Debt Service Suspension Initiative (DSSI) sampai dengan akhir Juni 2021. Perpanjangan dilakukan untuk membantu negara-negara miskin dalam merespon pandemi. 

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: