Pantau Flash
Pemotor Wajib Gunakan Masker dan Sarung Tangan selama PSBB di Jakarta
Persib Bandung Rilis Jersey Edisi Khusus Bantu Tenaga Medis
Update Korona 10 April: 282 Sembuh, 306 Meninggal, dan 3.512 Positif
Formula E Tunda Pengenalan Mobil Baru hingga Musim 2021/2022
6 Direktur Barcelona Mundur Imbas Konflik Internal

AS Sebut Sudah Waktunya China Taruh Kekayaannya dengan Perjanjian Nuklir

AS Sebut Sudah Waktunya China Taruh Kekayaannya dengan Perjanjian Nuklir Presiden AS Ronald Reagan (kanan) dan Presiden Soviet Mikhail Gorbachev menandatangani perjanjian Kekuatan Nuklir Jangka Menengah (INF) di Gedung Putih 8 Desember 1987. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Amerika Serikat kembali menekan China untuk bergabung dalam perundingan pengendalian senjata nuklir bersama dengan Moskow, Jumat 14 Februari waktu setempat.

"China telah sekian lama mengatakan tidak akan memasuki perlombaan senjata dengan AS dan Rusia. Sekarang adalah waktunya bagi China untuk menaruh kekayaannya di tempat yang tepat, dan membuktikan bahwa negara itu merupakan pemain internasional yang bertanggung jawab," kata seorang pejabat tinggi pemerintahan Trump.

Senjata nuklir Amerika Serikat dan Rusia jauh lebih besar daripada China. Namun, peningkatan militer Beijing di kawasan Asia-Pasifik telah membuat khawatir para sekutu dan pembuat kebijakan AS.

Baca juga: Wuhan Minta Warganya yang Baru Pulang Liburan Langsung Dikarantina

Presiden Donald Trump telah berusaha membujuk China bergabung dengan Amerika Serikat dan Rusia dalam pembicaraan mengenai perjanjian pengendalian senjata pengganti perjanjian New START 2010 antara Washington dan Moskow, yang akan berakhir Februari mendatang.

China selama ini menolak proposal Trump tersebut dengan alasan bahwa kekuatan nuklirnya yang lebih kecil bersifat defensif dan tidak menimbulkan ancaman.

"Sikap China yang terus diam menciptakan ketidakpastian tentang niat mereka dan menimbulkan kepentingan untuk membuat fokus baru pada pencegahan dan kesiapan militer bagi Amerika Serikat," kata seorang pejabat pemerintah.

Baca juga: Trump: Perjanjian Damai dengan Taliban Sudah Sangat Dekat

New START mempertahankan satu-satunya batasan yang tersisa pada pengerahan nuklir AS dan Rusia. Beberapa ahli dan anggota parlemen menyebut proposal Trump untuk memasukkan China dalam perjanjian baru sebagai strategi "pil racun" dengan tujuan untuk membunuh START Baru dan mengakhiri pembatasan pada pengerahan nuklir AS.

New START melarang Amerika Serikat dan Rusia mengerahkan lebih dari 1.550 hulu ledak nuklir, jumlah terendah dalam beberapa dasawarsa terakhir ini. Perjanjian itu juga membatasi rudal berbasis darat dan kapal selam serta perangkat bom yang mengirimnya.

Perjanjian tersebut dapat diperpanjang hingga lima tahun jika kedua belah pihak setuju. Rusia juga telah menawarkan untuk segera memperpanjang perjanjian itu tapi AS belum memutuskan.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: