Pantau Flash
Jubir Sebut 75 Persen Pasien COVID-19 di 11 Provinsi Telah Sembuh
Bamsoet Mendesak Kementan Segera Lakukan Uji Klinis Antivirus Korona
Jumlah Pasien Sembuh COVID-19 di Wisma Atlet Bertambah Menjadi 3.586 Orang
Seluruh Pasien COVID-19 di Klaster Terbesar Gunung Kidul Telah Sembuh
Soal Larangan Tampil di Liga Champions, Guardiola Yakin City Menang Banding

Kematian Akibat Korona AS Diprediksi Bisa Mencapai 200 Ribu Orang

Kematian Akibat Korona AS Diprediksi Bisa Mencapai 200 Ribu Orang Seorang warga mengenakan masker menunggu untuk dites COVID-19 di New York, negara bagian dengan kasus terbanyak di AS saat ini. (Foto: AP/John Minchillo via ABC News)

Pantau.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memperpanjang masa 'social distancing' di negara tersebut sampai akhir April. Tujuannya adalah untuk mengurangi angka penularan virus corona, yang sekarang menjadi yang tertinggi di dunia.

  1. AS jadi pusat penyebaran corona tertinggi dengan jumlah kasus lebih dari 140 ribu
  2. Trump menuduh rumah sakit menyembunyikan ventilator tapi kemudian membantahnya
  3. Negara bagian dan kota besar AS meminta peralatan tambahan karena meningkatnya kasus

Melansir ABC News, Selasa (31/3/2020), keputusan ini sangat berbeda dengan apa yang diungkapkan Presiden Trump beberapa hari lalu, bahwa negaranya akan kembali dibuka untuk bisnis, sehari setelah Hari Paskah tanggal 12 April nanti. Kepada wartawan di Gedung Putih, Presiden Trump mengatakan puncak penularan virus corona akan terjadi dalam dua minggu.

Ia juga mengatakan jika ucapannya soal bisnis yang kembali normal setelah Hari Paskah hanyalah untuk "memberi semangat". Semula kebijakan social distancing yang diberlakukan pemerintah AS berlangsung dua minggu dan berakhir hari Senin (30/3/2020) waktu setempat.

Sekarang kebijakan ini akan diperpanjang sampai 30 April. "Tidak ada yang lebih buruk menyatakan kemenangan ketika kemenangan itu belum terjadi. Ini akan menjadi kegagalan terbesar," kata Presiden Trump.

"Semakin baik kita melakukannya, semakin cepat semua mimpi buruk ini akan berlalu.'

Baca juga: Wow, Kasus Korona di Australia Menurun Signifikan!

Korban bisa mencapai 200 ribu orang


Dr Anthony Fauci (kanan) berbicara dalam jumpa pers bersama Presiden Trump di Gedung Putih hari Minggu (29/3/2020). (Foto: Reuters: Al Drago via ABC News)

Keputusan Washington muncul setelah Direktur Institut Penyakit Menular dan Alergi di Amerika, Anthony Fauci mengatakan kepada CNN, jika wabah virus corona bisa memakan korban antara 100 ribu sampai 200 ribu kematian.

"Apapun model yang kita gunakan untuk memprediksi, selalu ada skenario terburuk dan skenario terbaik," kata Dr Fauci.

"Saya tidak pernah melihat penyakit apapun yang pernah saya tangani dimana semuanya berakhir dengan skenario terburuk."

Namun setelah pertemuannya dengan Presiden Trump, Dr Fauci bersikap melunak dengan pernyataan soal kemungkinan jumlah korban. Ia mengatakan skenario terburuk itu akan terjadi di Amerika Serikat, jika warga tidak mengikuti petunjuk untuk tidak keluar rumah.

"Kami merasa langkah yang sudah kami ambil sekarang mulai menunjukkan hasilnya," katamya, dengan menambahkan perpanjangan masa social distancing sebagai langkah yang bijak.

Trump sempat tuduh rumah sakit simpan peralatan

Rumah sakit di Amerika Serikat kewalahan menangani banyak pasien yang terkena virus corona COVID-19. (Foto: Reuters/Stefan Jeremiah via ABC News)

Hari Minggu, Presiden Trump menuduh rumah sakit sengaja menyimpan ventilator, atau alat bantu pernapasan, yang sekarang sedang langka. Dia mengatakan rumah sakit yang tidak menggunakan alat tersebut seharusnya memberikan kepada rumah sakit yang membutuhkannya.

Namun Trump tidak memberikan bukti adanya rumah sakit yang sengaja menyimpan ventilator. Tidak jelas rumah sakit dimana yang dituduh oleh presiden Amerika Serikat tersebut.

"Kami mengetahui beberapa pekerja rumah sakit, beberapa rumah sakit menyimpan peralatan termasuk ventilator," kata Trump di Gedung Putih setelah pertemuan dengan kalangan bisnis.

"Kita harus menyerahkan ventilator tersebut, khususnya rumah sakit yang tidak akan menggunakannya."

Namun dalam jumpa pers ketika mengumumkan perpanjangan masa 'social distancing', Presiden Trump kemudian menarik pernyataannya. Saat menjawab pertanyaan dari salah satu media, yakni PBS, Trump mengatakan kepada wartawan tersebut untuk "bertindak lebih positif".

Sejak pandemu virus korona, Presiden Trump juga sering mendapat kritiknya atas caranya menangani wabah tersebut di Amerika Serikat.

Baca juga: Pesan Penuh Haru Pangeran William-Midleton di Tengah Pandemi Korona

Kasus COVID-19 tertinggi di dunia

Hingga kemarin 29 Maret 2020, kematian akibat virus korona di Amerika Serikat sudah mencapai 2.300 orang hari Minggu. Jumlah kematian di hari Sabtu telah naik dua kali lipat dibandingkan hari Kamis lalu. Secara keseluruhan, sudah ada lebih dari 140 ribu kasus di negara tersebut, angka tertinggi di dunia saat ini. Di negara bagian New York, angka kematian dalam 24 jam terakhir menunjukkan satu orang meninggal setiap enam menit, dengan adanya 60 ribu kasus dan 965 yang meninggal.

Gubernur dari 21 negara bagian yang mewakili separuh dari 330 juta penduduk mengatakan agar warganya tinggal di rumah dan menutup bisnis yang tidak penting. New York, New Orleans dan kota-kota besar lain juga telah meminta pengiriman pasokan peralatan kesehatan lebih banyak.

Gubernur Michigan, Gretchen Whitmer, dimana kasus korona paling meningkat tinggi, menggambarkan penyebaran cepat ini sebagai sesuatu yang "mengerikan".

"Kami memiliki perawat yang mengenakan masker yang sama sejak dia ia mulai kerja sampai selesai, masker yang seharusnya hanya digunakan saat menangangi satu pasien saja," kata Whitmer kepada CNN.

"Kami memerlukan bantuan dan kami memerlukan ribuan ventilator."

Wali Kota New York City, Bill de Blasio mengatakan kotanya memerlukan tambahan ratusan ventilator, serta lebih banyak lagi masker, pakaian dan pasokan lainnya setelah tanggal 5 April.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: