Pantau Flash
Sean Connery, Pemeran James Bond Meninggal di Usia 90
Milenial Jangan Dimanja Tuai Pro dan Kontra, Megawati Santai
Jakarta sebagai Kota Terbaik Dunia dalam STA 2021, Anies: Alhamdulillah
Presiden Jokowi Kecam Pernyataan Emmanuel Macron yang Hina Islam
1 Tahun Pengabdian, Mendes PDTT Peroleh Penghargaan IPB

Media Asing Soroti Demo Tuntut Referendum Papua, Dibubarkan dengan Tembakan

Headline
Media Asing Soroti Demo Tuntut Referendum Papua, Dibubarkan dengan Tembakan Ilustrasi. (Pantau.com/Amin H. Al Bakki)

Pantau.com - Aksi demonstrasi yang digelar Frot Mahasiswa dan Rakyat Papua di gapura Kampus Universitas Cenderawasih Bawah Abepura pada Senin, 28 September 2020, yang berujung rusuh menjadi sorotan media asing, salah satunya The Guardian.

The Guardian memberitakan konflik di Papua dengan judul "Protest Flare in Papua as Student Demand Independence Referendum".

Aksi demonstrasi itu ditunjukkan untuk menentang rencana memperpanjang undang-undang otonomi khusus yang menurut para pengunjuk rasa tidak cukup membantu orang-orang di Papua.

Baca juga: Front Mahasiswa Demo di Jayapura Papua, Terjadi Gesekan saat Dibubar Paksa

Seperti diketahui, Undang-Undang Otonomi Khusus 2001 yang akan berakhir pada 2021, seharusnya memberi Provinsi Papua dan Papua Barat bagian pendapatan yang lebih besar dari sumber daya alam yang ada dan otonomi politik yang lebih besar.

Para pengunjuk rasa pro-kemerdekaan mengatakan undang-undang otonomi khusus digunakan untuk menekan gerakan kemerdekaan Papua serta menuntut referendum pemisahan diri dari Indonesia.

"Meskipun ada dana, perawatan kesehatan, tapi itu tidak dijamin dan pendidikan tetap minim," ujar mahasiswa Ayus Heluka setelah menghadiri rapat umum di Universitas Cenderawasih di Ibu Kota Papua, Jayapura, dikutip The Guardian, Selasa (29/9/2020).

Unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiwa dan warga Papua itu dibubarkan paksa oleh kepolisian dengan tembakan peringatan. Dalam rekaman video di media sosial memperlihatkan massa aksi berlari panik setelah mendengar tembakan.

Baca juga: Pemerintah Janji Usut Tuntas Penembakan Pendeta Yeremia di Papua

Juru bicara kepolisian Papua Ahmad Kamal membenarkan melalui telepon bahwa polisi telah melepaskan tembakan peringatan. Di sisi lain, Kepala Polresta Jayapura Kota, AKBP Gustav R Urbinas, di Jayapura, mengatakan demonstrasi itu tidak mengantongi izin sehingga terpaksa dibubarkan.

Ia mengungkapkan pembubaran itu lantaran polisi telah memberikan waktu untuk mereka berorasi dengan batas waktu yang ditentukan. “Kami memberikan batas mereka orasi sampai pukul 11.00 WIT dan kami terlebih dahulu telah memberikan imbuan, namun imbuan itu tidak diindahkan, sehingga kosekuensinya yakni kami bubarkan paksa,” katanya, Senin, 28 September 2020.

Ia juga membenarkan bahwa kepolisian sempat menangkap tiga pendemo di Papua. "Iya, kami sempat menahan tiga orang koordinator lapangan, namun setelah itu kami sudah pulangkan. Satu orang pendemo juga luka lecet namun sudah dirawat lalu dipulangkan,” katanya.

Seperti diketahui, beberapa hari ini terjadi peningkatan ketegangan di Papua antara TNI-Polri dan kelompok separatis atau dikenal sebagai KKB. Terjadi rentetan baku tembak yang menyebabkan dua tentara dan dua warga sipil, termasuk Pendeta Yeremia tewas.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: