Pantau Flash
Update Korona 10 April: 282 Sembuh, 306 Meninggal, dan 3.512 Positif
Formula E Tunda Pengenalan Mobil Baru hingga Musim 2021/2022
6 Direktur Barcelona Mundur Imbas Konflik Internal
Gunung Merapi Kembali Erupsi, Tinggi Kolom Mencapai 3.000 Meter
Kasus Positif Korona Jakarta Capai 1.719: 155 Meninggal dan 82 Sembuh

Benarkah Boba Lebih Bahaya Dibanding Minuman Pemanis? Ini Kata Ahli Gizi

Benarkah Boba Lebih Bahaya Dibanding Minuman Pemanis? Ini Kata Ahli Gizi Ilustrasi minuman boba atau bubble drink (ANTARA/Shutterstock)

Pantau.com - Banyak yang beranggapan jika bubble atau yang biasa disebut boba (bola tapioka) lebih berbahaya dibandingkan minuman pemanisnya, padahal keduanya sama-sama memberikan efek yang negatif bagi tubuh.

Ahli gizi Pafitri, S.K.M.,RD mengatakan baik boba atau minuman manis penyertanya menyumbang kalori yang sangat besar bagi tubuh. Sayangnya, jumlah kalori ini tidak mengandung nilai gizi yang dibutuhkan tubuh.

"Dua-duanya karena kan bubble-nya itu kan penyumbang kalori yang cukup tinggi karena dia kan karbohidrat, kemudian dia diolah dengan gula lagi sehingga kalorinya menjadi tinggi sekali sehingga tidak boleh berlebihan," ujar Pafitri di Jakarta, Kamis (27/2/2020).

Baca juga: 5 Obat Rumahan Penghilang Flek Hitam atau Melasma pada Kulit Wajah

Sementara itu, minuman manis yang biasa dikonsumsi bersama boba mengandung gula, susu krimer atau kental manis yang jika digabungkan jumlahnya setara dengan 8-18 sendok teh gula.

"Kemudian di minumannya kan tidak hanya bubble, ada tambahan gula, susu, belum topping-nya ada tambahan biskuit, itu yang membuat tambah berbahaya. Gulanya sudah tinggi dan kemudian total keseluruhan kalorinya juga tinggi," kata Pafitri menjelaskan.

Baca juga: 8 Nutrisi Penting yang Diperlukan Tubuh Setiap Hari

Dalam setiap 500ml minuman boba mengandung 500-800 Kal atau sekira dua sampai lima piring nasi putih 100 gram. Jika diminum secara terus-menerus bisa memicu penyakit seperti hipertensi, diabetes, jantung dan kanker.

"Kalau setiap hari dapat memberikan dampak yang tidak baik. Kalau bisa dihindari atau sebulan dua kali itu udah maksimal. Kalau kandungan gula banyak, itu bahaya sekali karena nanti terjadi akumulasi yang menyebabkan kegemukan dan diikuti penyakit lain," kata Pafitri.

 

Tim Pantau
Editor
Gilang K. Candra Respaty
Penulis
Kontributor - TIH

Berita Terkait: