Pantau Flash
Luhut: Mudik Tidak Dilarang, tapi Kalau Anda Pulang Pasti Bawa Penyakit
Update COVID-19 2 April: 1.790 Positif, 112 Sembuh, 170 Meninggal
Total Pasien Positif COVID-19 di RS Darurat Wisma Atlet Jadi 125
Seorang Warga Ciomas Positif, Total Pasien COVID-19 Kab Bogor Jadi 14 Orang
Rapid Test di Stadion GBLA Bandung Batal Setelah Ditolak Warga Setempat

Bosan Game Itu-itu Aja? Kamu Harus Coba 'Valthirian Arc: Hero School Story'

Bosan Game Itu-itu Aja? Kamu Harus Coba 'Valthirian Arc: Hero School Story' Tangkapan layar game “Valthirian Arc: Hero School Story” dari Agate dalam bahasa Sunda. (Foto: YouTube via Antara)

Pantau.com - Agate, pengembang game berbasis di Bandung, resmi meluncurkan game konsol pertama “Valthirian Arc: Hero School Story” untuk PlayStation 4 di Indonesia.

Game bergenre role-playing game (RPG), sebuah game di mana pemainnya memainkan peran karakter dalam latar fiksi, ini lebih dulu diperkenalkan di Amerika Serikat dan Eropa pada 2018 sebelum pulang kampung ke Indonesia.

VP Consumer Game Agate Cipto Adiguno mengatakan pertimbangan harga konsol yang relatif lebih terjangkau di Amerika Serikat dan Eropa membuat mereka lebih dulu meluncurkan game “Valthirian Arc: Hero School Story” di sana. "Penggunanya, pemain game, lebih banyak di luar negeri," kata Cipto dalam konferensi pers.

Setelah singgah ke negara-negara lain, kini Agate membawa pulang game tersebut ke Indonesia dengan fitur bahasa yang membuat pemain merasa lebih dekat dengan game tersebut. "Ada bahasa Sunda dan bahasa Indonesia," kata Cipto.

Bahasa Sunda yang digunakan dalam game tersebut sebagian besar merupakan bahasa sehari-hari yang akrab didengar di Bandung, tempat Agate bernaung.

Baca juga: Infografis 5 Game Terlaris dalam Sejarah, Nomor 1 Pasti Pernah Kita Mainkan

Tak cuma itu, aksara Sunda kuno juga menghiasi tulisan di game tersebut. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah membuat lokalisasi latar belakang game yang berbau Eropa.

Mengingat fokus game ini adalah cerita, Cipta mengatakan lokalisasi bukan sekadar menerjemahkan bahasa Inggris menjadi bahasa Indonesia dan Sunda, tapi membuat agar konteks ceritanya bisa lebih dipahami oleh pemain.

Sejauh ini belum ada rencana untuk menambah bahasa daerah lain, namun Cipta tidak menutup kemungkinan itu akan terwujud di masa mendatang.

"Kami ingin banget bawa bahasa daerah ke game kita yang lain karena kita ingin menumbuhkan semangat bahwa bahasa lokal itu tidak norak, itu sesuatu yang bisa dibanggakan, tidak aneh kalau ada di game," ujar dia.

Game ini disambut hangat di Amerika Serikat dan Eropa, Cipta mengatakan Agate telah berhasil balik modal dalam tiga bulan pertama setelah diluncurkan.

Baca juga: Siapa Sangka, 6 Kebiasaan yang Dianggap Buruk Ini Punya Manfaat Besar

Pemain di game “Valthirian Arc: Hero School Story” berperan sebagai kepala sekolah yang baru diangkat dalam sekolah pahlawan. Misi terbesarmya adalah mengelola akademi untuk melatih dan menemukan para Pahlawan Legendaris berikutnya.

Misi tersebut beragam, mulai dari membimbing siswa pada kegiatan sehari-hari, hingga merencanakan peta ekspansi akademi, di mana setiap keputusan yang diambil dapat menjadi satu langkah menuju petualangan lain yang lebih besar. Pemain perlu memastikan para siswa mereka belajar dari lingkungan yang terbaik, dan merencanakan sumber daya pembangunan fasilitas baru dan peningkatan yang konstan.

Untuk menyelesaikan misi, siswa dapat dikerahkan untuk menjalankan misi atau misi sampingan, yang menambahkan pandangan holistik ke kisah latar belakang dunia Valthirian, di samping hadiah yang diberikan oleh misi tersebut.

Terdapat sistem party yang memungkinkan pemain untuk memanfaatkan berbagai strategi melalui taktik pengalihan anggota dan pemberian perintah yang berbeda kepada mereka.

Dengan tiga disiplin inti dan enam sub-kelas khusus, pemain dapat membuat kombinasi beberapa party dengan melatih siswa mereka ke kelas pekerjaan yang berbeda.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: