Pantau Flash
Pemerintah Izinkan Shalat Idul Adha Digelar di Masjid di Luar Zona Merah dan Oranye
Wapres Sebut MUI Terapkan Moderasi dalam Fatwa Vaksin COVID-19
Pemerintah Anggarkan Rp2 Triliun untuk Bayar Utang ke Guru dan Dosen Agama
36 Pegawai Kedeputian Penindakan KPK Positif COVID-19
Pos Penyekatan di Jembatan Suramadu Resmi Ditiadakan

Studi: Pria Mapan Lebih Mudah Obesitas, Bagaimana dengan Wanita?

Studi: Pria Mapan Lebih Mudah Obesitas, Bagaimana dengan Wanita? Pria Obesitas. (Foto: iStock)

Pantau.com - Berdasarkan hasil studi terhadap 864 responden di kota besar di Indonesia mengungkapkan, pria obesitas lebih banyak ditemui di kalangan tingkat ekonomi tinggi. Semakin rendah tingkat ekonominya, semakin sedikit pula jumlah penderita obesitas, tetapi pola tersebut justru terbalik pada kasus perempuan.

Dalam kategori tingkat ekonomi paling tinggi, jumlah pria dan wanita yang obesitas serupa, masing-masing 23,5 persen dan 23,2 persen. Namun, pada tingkat ekonomi lebih rendah, jumlah perempuan obesitas naik jadi 44,3 persen, sementara pria hanya 14,3 persen.

Baca Juga: Benarkah Obesitas Bisa Bikin Panjang Umur? Cek Faktanya

Banyak dari ahli kesehatan yang menduga jika fenomena ini berhubungan dengan kontrasepsi hormonal yang aplikasikan oleh para perempuan.

Teori lainnya adalah mengenai masalah kesehatan masa dewasa yang ditentukan saat masih berada dalam kandungan. Bila janin tidak dapat asupan gizi yang cukup selama dalam rahim, hal tersebut mempengaruhi kehidupannya setelah lahir.

Jadi secara tidak langsung, orang yang lahir dengan berat badan rendah memiliki kecenderungan lebih tinggi terhadap penyakit tidak menular dan obesitas.

Studi tersebut melibatkan berbagai macam golongan dari pria dan wanita dengan usia 18-45 tahun yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar dan Medan.

Baca Juga: Wanita Obesitas Lebih Rentan Terkena Kanker Ovarium

Hasil studi menemukan, risiko obesitas memiliki banyak faktor yang semuanya bermuara pada gaya hidup, yakni asupan makanan dan aktivitas fisik.

Jadi secara tidak langsung, mereka yang memiliki finansial tinggi lebih cenderung menerapkan gaya hidup kurang sehat dengan banyak mengonsumsi makanan cepat saji, begitupun sebaliknya, namun faktor tersebut tidak berlaku untuk perempuan.

Tim Pantau
Editor
Gilang K. Candra Respaty
Penulis
Kontributor - SIG

Berita Terkait: