Pantau Flash
Bom Mobil Terjang Demonstrasi Anti Pemerintah di Irak, 4 Orang Tewas
Menangi Perang Saudara, Ginting ke Final Hong Kong Open 2019
Hasil Kualifikasi MotoGP Valencia 2019: Quartararo Kalahkan Marquez
Polda Sumut Tetap 18 Tersangka dalam Serangan Bomber di Polrestabes Medan
BPBD Sebut Belum Ada Penetapan Tanggap Darurat Gempa Malut

5 Fakta Hutan Aokigahara, Tempat Fenomenal Bunuh Diri di Jepang

5 Fakta Hutan Aokigahara, Tempat Fenomenal Bunuh Diri di Jepang Hutan Aokigahara. (Wikimedia)

Pantau.com - Bunuh bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi. Bunuh diri disebut menjadi kasus kematian paling tinggi di dunia, salah satunya adalah Jepang. 

Sebuah survei menunjukkan angka bunuh diri yang menimpa generasi muda di Jepang pada 2018 mencapai titik tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Salah satu tempat fenomenal yang terkenal di Jepang adalah Hutan Aokigahara, yang kerap menjadi tempat untuk melakukan bunuh diri.

Aokigahara adalah hutan yang terletak di sebelah Barat Laut Gunung Fuji, membentang dari kota Kawaguchiko hingga desa Narizawa, Prefektur Yamanashi. Aokigahara disebut juga "hutan lautan pohon" dan "lautan pohon gunung Fuji".

Berikut 5 fakta tentang hutan Aokigahara yang dirangkum dari berbagai sumber.

1. Penunggu Hutan


Ilustrasi Yurei. (Foto: mysendoff.com)

Dalam mitos Jepang, disebutkan bahwa hutan Aokigahara yang digambarkan dalam sosok wanita yang pucat dengan baju putih panjang dan rambut bewarna hitam. Roh tersebut bernama "Yurei". 

Menurut penduduk setempat, Yurei adalah perwujudan roh dari orang yang melakukan bunuh diri di hutan tersebut. Petugas hutan Aokigahara biasanya melakukan ritual dengan menemani jasad pelaku bunuh diri agar arwah orang yang bunuh diri tak sendirian dan menjadi marah.

Baca juga: 10 Hal Tentang Tindakan Bunuh Diri yang Salah Kaprah di Masyarakat

2. Populer sebagai Tempat Bunuh Diri


Papan peringatan untuk orang-orang yang ingin bunuh diri di Aokigahara. (Foto: Tofugu)

Dengan pepohonan lebat dan hampir tidak ada binatang liar, Aokigahara merupakan tempat sunyi dan mencekam yang dipenuhi bebatuan dengan formasi janggal.

Hutan ini dianggap sebagai situs bunuh diri terpopuler setelah Golden Gate Bridge. Pemerintah Jepang sampai harus menyembunyikan angka kematian bunuh diri di Aokigahara, agar menghentikan tempat itu menjadi populer.

Di hutan ini bisa ditemukan papan peringatan untuk tidak bunuh diri. Biasanya papan tersebut bertuliskan pesan menggugah seperti "Hidupmu merupakan anugrah berharga bagi orangtuamu" atau "Pikirkan tentang keluargamu!", serta "Renungkan tentang keluarga dan anak-anak Anda, Anda tidak hidup seorang diri”.

3. Jumlah Kematian


Sepatu milik pelaku bunuh diri di Hutan Aokigahara. (Wikimedia)

Ratusan orang sudah bunuh diri di Hutan Aokigahara. Sebagai tempat favorit orang Jepang untuk mengakhiri hidupnya, menjadikan hutan ini menjadi hutan yang paling angker di Jepang. 

Banyak mayat bunuh diri berhasil ditemukan oleh keluarga. Namun ada juga beberapa mayat yang menghilang tanpa jejak. Menurut data dari situs resmi Hutan Aikogahara, ditahun 2003 jumlah bunuh diri dihutan ini mencapai 105 orang.

Aokigahara mencapai puncak popularitasnya sebagai tujuan bunuh diri sejak publikasi novel horor Nami no Tou (Tower of Waves) karangan Seicho Matsumoto pada tahun 1961.

Baca juga: 5 Kasus Bunuh Diri Secara Langsung di Media Sosial yang Mencengangkan

4. Gua Es Abadi


Gua Es Narusawa. (Foto: Japanisty.com)

Salah satu yang menjadi daya tarik hutan Aokigahara adalah terdapat gua es abadi di dalamnya. Gua Es Narusawa adalah gua yang tetap membeku sepanjang tahun walaupun menghadapi musim panas. Suhu udara rata-rata pada gua tersebut adalah 3˚ Celcius.

Hutan Aokigahara memang hampir tak memiliki satwa liar dan buas di dalamnya, tapi hutan ini adalah rumah bagi kupu-kupu dan kelelawar.

5. Mudah Tersesat


Hutan Aokigahara. (Foto: Tofugu)

Karena kerapatan pepohonan di dalam hutan Aokigahara, seseorang yang nekat masuk ke dalam hutan ini berpotensi tersesat sangat tinggi.

Itu sebabnya, para pejalan kaki di Aokigahara biasanya mengikuti jalan setapak dan membawa pita berwarna untuk menandai jalan. Banyak laporan dari orang yang menjelajahi hutan ini bahwa kompas tidak menunjukkan arah sebagaimana mestinya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - NPW
Category
Ragam

Berita Terkait: