Pantau Flash
Prabowo: Rencana Pemindahan Ibu Kota Sudah Digodok Gerindra Sejak 2014
Anies Pastikan Pemprov DKI Lepas Saham di Perusahaan Bir Tahun Depan
Pemindahan Ibu Kota, Sri Mulyani: Kami Tidak Masukkan ke RAPBN 2020
Dua Kali Tertinggal, Madura United Tahan Imbang Persija 2-2
Zakir Naik Dipanggil Polisi Malaysia Terkait Berita Hoax dan China

5 Fakta Seputar Demo di Hong Kong, Protes Paling Keras dalam 2 Dekade

5 Fakta Seputar Demo di Hong Kong, Protes Paling Keras dalam 2 Dekade Massa pengunjuk rasa memadati aula kedatangan di Bandara Internasional Hong Kong, Senin (12/8/2019). Pengunjuk rasa yang mencapai lebih dari 5.000 orang memaksa dihentikannya operasional bandara. (Foto: Reuters/Thomas Peter)

Pantau.com - Aksi unjuk rasa di Hong Kong dalam beberapa bulan terakhir ini menjadi protes terbesar Hong Kong yang mengakibatkan bentrokan antara aparat dengan para demonstran.

Para demonstran melakukan protes menentang pemerintah dan mengajukan tuntutan, di antaranya penarikan dan penghapusan UU Ekstradisi ke daratan China dan meminta penyelidikan atas kekerasan polisi selama menangani aksi protes.

Demo yang dilakukan massa mencapai 5 ribu orang di Bandara Internasional Hong Kong awalnya menuntut Pemimpin Hong Kong Carrie Lam untuk mengundurkan diri, namun aksi meluas menjadi gerakan menuntut reformasi.

Aksi protes ribuan rakyat Hong Kong tersebut merupakan protes paling keras dalam beberapa dekade sejarah Hong Kong. Kekerasan dan bentrokan antara demonstran dengan pihak kepolisian telah mencuri perhatian dunia internasional.

Berikut lima fakta seputar demo di Hong Kong yang dirangkum Pantau.com dari berbagai sumber.

1. Tuntutan RUU Ekstradisi

Para pengunjuk rasa dengan baju hitam memegang poster saat mereka mengikuti aksi unjuk rasa menuntut Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam untuk mundur dan menuntut penghapusan amademen ekstradisi ke daratan China. (Foto: Reuters/Jorge Silva)

Demonstrasi besar-besaran yang terjadi sejak bulan Juli silam dipicu oleh rencana pemerintah Hong Kong untuk memberlakukan Undang-undang Ekstradisi ke daratan China. RUU ini akan memungkinkan orang yang dituntut melakukan pidana di Hong Kong untuk diadili di China.

Namun, warga Hong Kong beranggapan langkah ini akan membuat para kriminal menerima perlakuan tidak manusiawi apabila diekstradisi ke Tiongkok dan mengikuti hukum negara tersebut.

Aksi protes itu menempatkan Hong Kong dalam krisis politik, seperti ketika demonstrasi "Pendudukan" oleh kalangan prodemokrasi berlangsung selama beberapa bulan pada 2014, hingga menambah tekanan pada pemerintahan Lam dan para pendukungnya di Beijing.

Baca juga: China Dukung Investigasi Kriminal Kericuhan di Parlemen Hong Kong

2. Menuntut Carrie Lam Mundur

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam saat konferensi pers terkait dengan RUU Ekstradisi ke daratan China yang telah dihapus. (Foto: Reuters/Tyrone Siu)

Usai pemerintah menangguhkan RUU Ekstradisi ke daratan China, para demonstran menuntut Pemimpin Hong Kong Carrie Lam untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

Beberapa penentang amademen ektradisi mengatakan penangguhan tidaklah cukup dan menginginkan untuk segera dihapus, serta menuntut pemimpin Hong Kong itu mundur.

"Jika ia menolak untuk memo amademen kontroversial itu, itu tidak berati dia akan mundur. Dia akan tetap, dan kita akan tetap berdiri," kata anggota parlemen pro-demokrasi Claudia Mo, dikutip Reuters.

3. Carrie Lam Minta Maaf dan RUU Ekstradisi Dihapus

Sebuah karikatur pemimpin Hong Kong Carrie Lam terlihat di pilar Dewan Legislatif di Hong Kong. (Foto: Reuters/Jorge Silva)

Pemimpin Carrie Lam mengatakan bahwa RUU Ekstradisi yang memicu krisis politik terbesar di Hong Kong telah 'mati', dan mengakui bahwa pekerjaan pemerintah pada RUU itu adalah 'kegagalan total'.

"Jadi, saya mengulangi di sini, tidak ada rencana seperti itu. RUU Ekstradisi itu sudah mati," ucap Carrie Lam dalam konferensi pers, pada Juli lalu, dikutip Reuters.

Deklarasi Lam tampaknya menjadi kemenangan bagi penentang RUU saat itu, namun rupanya hal itu tak membuat aksi protes berhenti. Hingga kini, aksi unjuk rasa menuntut Carrie Lam mundur meluas menjadi kini rakya Hong Kong meminta pemimpin itu untuk gerakan menuntut reformasi.

Baca juga: China Siap Keluarkan Pengumunan Krisis Terburuk di Hong Kong Sejak 1997

4. Massa Selipkan Petisi untuk Jokowi

Pengunjuk rasa menyelipkan petisi di pintu kaca KJRI Hong Kong yang terkunci, Rabu (26/6/2019). (Foto: KJRI Hong Kong)

Pengunjuk rasa sempat menyelipkan petisi di pintu kaca gedung Konsulat Jenderal RI di Hong Kong pada 26 Juli lalu. Petisi yang diselipkan di sela pegangan pintu kaca tersebut diambil oleh petugas penjagaan.

Petisi yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo dalam KTT G-20 di Jepang itu isinya agar mendukung Hong Kong dalam penangguhan secara penuh Rancangan Undang-Undang Ekstradisi dan pembentukan komite investigasi atas tindakan aparat kepolisian dalam unjuk rasa di Hong Kong beberapa waktu lalu.

5. Dikecam China


Tulisan Hong Kong is not China terlihat di belakang petugas yang berjaga saat aksi demonstrasi. (Foto: Reuters/Jorge Silva).

China mengecam aksi kekerasan dengan melemparkan bom molotov kepada aparat dalam demo Hong Kong. China mengaitkan para demonstran yang rusuh dengan terorisme.

"Para demonstran radikal Hong Kong yang berulang kali menggunakan benda-benda yang sangat berbahaya untuk menyerang personel kepolisian, sudah mengarah pada tindak kejahatan serius dan menunjukkan tanda-tanda pertama dari munculnya terorisme," kata juru bicara Kantor Dewan Negara untuk Urusan Hong Kong dan Macau, Yang Guang, seperti dilansir AFP, Senin (12/8/2019).

Inggris menyerahkan kembali Hong Kong ke China 22 tahun yang lalu dengan formula "satu negara, dua sistem", dengan jaminan bahwa otonomi dan kebebasan, termasuk sistem peradilan yang independen, akan tetap dilindungi.

Namun, banyak pihak menuding bahwa sejak itu China memperluas campur tangan termasuk dengan mengganggu reformasi demokrasi, mencampuri pemilihan lokal dan berada di balik kehilangan lima penjual buku terlaris di Hong Kong, sejak 2015, yang kerap mengecam para pemimpin China.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - NPW
Category
Internasional

Berita Terkait: