Pantau Flash
Rp54 Juta dan 2.600 Dolar AS Disita KPK dari Rumdin Bupati Lampung Utara
Pasca Diserang, Raja Salman Sepakat Tambah Pasukan Militer AS
Juarai F1 GP Jepang, Bottas Antar Mercedes Kunci Gelar Juara Konstruktor
7 Paus Ditemukan Mati Terdampar di Pantai Nusa Tenggara Timur
Tampil Lawan Norwegia Semalam, Sergio Ramos Pecahkan Rekor Lampaui Casillas

60 Tahun di Pengasingan, Dalai Lama Masih Diingat Masyarakat Tibet

60 Tahun di Pengasingan, Dalai Lama Masih Diingat Masyarakat Tibet Biksu Buddha memasuki ruangan doa di biara Rongwo di Tibet. (Foto: Reuters/Thomas Peter)

Pantau.com - Dalai Lama mungkin telah menghabiskan enam dekade melarikan diri ke pengasingan. Namun, di dusun tempat ia dilahirkan, ia masih diingat oleh masyarakat serta pihak berwenang China di sana.

Di ujung timur laut dari daratan tinggi Tibet, Taktser di Provinsi Qinghai, di mana Dalai Lama lahir pada 1935 dari orang tua yang berprofesi sebagai petani, telah menarik banyak peminat turis asing dan penjagaan ketat oleh keamanan China. 

Melansir Reuters, Kamis (14/3/2019), selama kunjungan wartawan Reuters ke Taktser, dikenal di China sebagai Hongya, polisi dengan senjata lengkap memblokir jalan menuju desa tempat Dalai Lama dulu tinggal.

Beberapa polisi bersenjata menolak wartawan Reuters masuk, dan mengatakan desa itu merupakan wilayah pribadi dan tidak terbuka untuk umum. Namun, juru bicara otoritas setempat menolak untuk memberikan keterangan lebih lanjut.

Baca juga: Perkuat Tekanan di Kepulauan Pasifik, Beijing Minta Akui Kebijakan Satu China

Beijing telah melihat pemegang Nobel Peace Prize sebagai separatis berbahaya dan telah mengecam pemimpin spiritual berusia 83 tahun itu sebagai 'serigala berjubah biksu'. Dalai Lama menyangkal mendukung kekerasan dan mengatakan ia hanya ingin otonomi asli untuk Tibet.

Lebih dari enam juta penduduk Tibet masih menghormati Dalai Lama, meskipun pemerintah telah melarang menampilkan gambarnya di muka umum untuk pengabdian.

Pekan lalu, menandai 60 tahun Dalai Lama, sejak dirinya menyamar sebagai seorang prajurit yang lari dari Istana potala di Lhasa, ibu kota Tibet, setelah adanya desas-desus pasukan China berencana melakukan penculikan dan pembunuhan terhadapnya, yang memicu pemberontakan.

Dua pekan kemudian, Dalai Lama diketahui memasuki wilayah India dan dikabarkan tidak pernah menginjakan kaki di Tibet sejak saat itu.

Meski waktu telah berlalu, selama peringatan politik yang sensitif, otoritas China membatasi akses ke desa di mana keluarga Dalai Lama tinggal, dengan memasang pintu dinding beton tinggi.

Masih diingat di Tibet

Salah satu orang Tibet berusia 29 tahun dari Kota Rebkong, mengatakan orang-orang Tibet menyadari HUT 60 tahun Dalai Lama dalam pengasingan, namun peringatan apapun telah dilarang.

"Anda hanya akan mengubur di dalam hati anda, kami hanya tidak berbicara tentang hal itu," ucapnya, menolak diidentifikasi karena masalah keamanan.

"Kami tidak memiliki kemampuan untuk melawan politik, kita hanya bisa pergi dari masyarakat," tambahnya.

Lahir di Lhamo Thondup, Dalai Lama saat itu masih berusia dua tahun ketika diidentifikasi oleh Partai Komunis sebagai inkarnasi baru pemimpin spiritual Tibet paling penting, dan dibawa dari rumah keluarganya di Lhasa.

Baca juga: Jack Ma Diperkenalkan sebagai Anggota Partai Komunis China

Peringatan 60 tahun Dalai Lama melarikan diri ke pengasingan ke India merupakan salah satu dari beberapa tanggal sensitif secara politisi di China pada tahun ini, termasuk 30 tahun peringatan tindakan keras pada demonstran pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen di bulan Juni.

Dalam pertemuan dengan parlemen China, Kepala Partai Komunis Tiber Wu Yingjie mengatakan, orang-orang Tibet merasa lebih besar karena pemerintah dibandingkan dengan Dalai Lama, yang 'tidak melakukan satu hal baik bagi rakyat Tibet'.

Melihat umur Dalai Lama saat ini, banyak orang Tibet merasa takut bahwa Beijing akan menggantikan tempatnya.

Dalai Lama telah memperkirakan bahwa penjelmaannya mungkin akan ditemukan di luar wilayah yang dikuasai China, atau lembaga Dalai Lama yang telah berusia berabad-abad akan mati bersamanya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi
Category
Internasional

Berita Terkait: