
Pantau - Mahasiswa Indonesia di China, Muhammad Apri Yansyah, berkomitmen menjembatani penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, rekayasa, dan matematika (Science, Technology, Engineering, and Mathematics atau STEM) yang dipelajarinya di China untuk mendukung pengembangan industri di Indonesia.
Apri saat ini menempuh program magister teknik metalurgi di Central South University di Changsha, Provinsi Hunan, China.
“Selama delapan tahun kuliah di China, keinginan terbesar saya setelah lulus S2 adalah menjembatani kesenjangan. Saya ingin membawa keahlian teknis STEM yang diperoleh di China untuk diterapkan di industri Indonesia,” ujarnya.
Apri memulai pendidikan tinggi di China melalui program diploma D3 di Provinsi Guangxi.
Ia kemudian melanjutkan studi sarjana dengan beasiswa Chinese Government Scholarship di China University of Petroleum di Beijing.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia melanjutkan studi magister di Central South University di Changsha.
Universitas tersebut dikenal memiliki keunggulan di bidang teknologi metalurgi, teknik transportasi rel, serta kedokteran.
Menurut Apri, reputasi bidang STEM di universitas tersebut sangat kuat, terutama dalam bidang teknik pertambangan, metalurgi, teknik sipil, dan perkeretaapian.
Pada tingkat magister, ia membutuhkan fasilitas laboratorium yang lengkap untuk mendukung kegiatan penelitian.
Apri menilai Central South University memiliki fasilitas tersebut sehingga dapat menunjang riset mahasiswa secara optimal.
Universitas tersebut juga memiliki hubungan erat dengan sejumlah perusahaan besar di China sehingga materi yang dipelajari di kelas dinilai relevan dengan kebutuhan industri global.
Apri menilai pengalaman belajar di China membuka peluang besar untuk membangun jaringan internasional yang dapat dimanfaatkan bagi perkembangan teknologi di Indonesia.
Menurutnya, banyak proyek strategis di Indonesia saat ini menggunakan teknologi dari China sehingga pemahaman terhadap sistem teknologi serta proses pengembangannya menjadi penting.
Interaksi dengan mahasiswa internasional dan peneliti dari berbagai negara juga dinilai menjadi kekuatan tambahan dalam membangun kerja sama teknologi di masa depan.
Namun ia mengakui terdapat sejumlah tantangan selama menjalani pendidikan di China, terutama dalam memahami istilah ilmiah fisika dan kimia dalam karakter Hanzi.
Selain itu, dosen di China menuntut hasil penelitian yang presisi sehingga mahasiswa harus menghasilkan data yang sangat akurat.
Apri juga menilai perkembangan teknologi di China berlangsung sangat cepat sehingga buku teks terkadang tertinggal dibandingkan riset terbaru yang dilakukan di laboratorium.
Apri berharap pemerintah maupun perusahaan di Indonesia memiliki skema penempatan yang jelas bagi lulusan luar negeri agar ilmu yang diperoleh dapat dimanfaatkan secara optimal di dalam negeri.
Ia juga menilai pentingnya wadah kolaborasi antara mahasiswa Indonesia di luar negeri dengan peneliti di Indonesia untuk memperkuat proses transfer teknologi.
Selain itu, akses terhadap riset global juga memerlukan dukungan pendanaan yang memadai.
Central South University juga menjalin kerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia serta perusahaan nikel asal China, CNGR.
Perusahaan tersebut telah membangun fasilitas pengolahan nikel di Morowali, Sulawesi Tengah.
Kerja sama tersebut berupa program pelatihan intensif bagi tenaga teknis dari Kementerian ESDM dan karyawan CNGR asal Indonesia selama tiga tahun di Central South University.
Program tersebut menggabungkan pembelajaran teori teknik metalurgi dan material dengan praktik langsung di industri nikel di China.
Kerja sama yang dimulai pada 2024 kemudian diperluas pada Agustus 2025 melalui penandatanganan perjanjian antara CNGR, Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung, serta Kementerian ESDM.
Program tersebut juga mencakup kegiatan magang dan pelatihan bagi mahasiswa serta karyawan dari Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung, Kementerian ESDM, dan CNGR.
Duta Besar Republik Indonesia untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun menyampaikan terdapat potensi besar untuk memperluas kerja sama pendidikan antara Central South University dan Indonesia.
Menurutnya, kerja sama pendidikan juga perlu diiringi dengan penguatan pertukaran budaya antara kedua negara.
Salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan adalah membuka rumah budaya Indonesia di Central South University sebagai pusat pertukaran budaya Indonesia dan China di Changsha.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








