Forgot Password Register

Dear Mahasiswa... Cita-cita Pekerjaan Anda Pengaruhi Daya Saing Bangsa

Dear Mahasiswa... Cita-cita Pekerjaan Anda Pengaruhi Daya Saing Bangsa Ketua Asosiasi IdEA, Ignatius Untung (kiri) (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com - Anak-anak muda sering kali bingung saat menentukan pilihan bekerja, padahal saat lulus dari program pendidikan atau bahkan di awal memulai pendidikan tinggi seharusnya Sumber Daya Manusia (SDM) seharusnya sudah disiapkan untuk memiliki kemampuan yang andal.

Pasalnya, sektor pekerjaan kedepan akan lebih beragam dan hal ini akan sangat berpengaruh pada daya saing sumber daya manusia Indonesia di mata dunia. 

Salah satu penyebabnya, menurut data dari Asosiasi E-Commerce Indonesia (Indonesian E-commerce Association/IdEA) sebagain besar calon mahasiswa belum memiliki cita-cita ideal. 

Baca juga: Harga Ayam dan Telur Katanya Stabil Mom, Kalian Sudah Cek?

Pihaknya bahkan mencatat setidaknya 87% calon mahasiswa tidak memilih jurusan yang ideal.

"Banyak yang belum punya cita-cita ideal. 87% tidak memilih jurusan ideal," kata Ketua Asosiasi IdEA, Ignatius Untung dalam sebuah diskusi di Williams Cafe, Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Dia menambahkan, masih banyak anak-anak muda yang masih memilih pekerjaan yang umum. 

"Faktanya di Indonesia masih banyak yang cita-citanya Insinyur, Dokter, Pada, kami menemukan mahasiswa memilih jurusan bukan karena alasan ideal, tidak banyak yang ingin kerja di ecommerce company," imbuhnya.

Ignatius bilang dari data yang didapat, 50,55 persen memutuskan tidak memilih cita-cita yang ideal karena beberapa faktor eksternal. Misalnya, mencari yang mudah mendapatkan pekerjaan.

"Mimpi kita dilimit itu, padahal, jangan-jangan semakin mudah (cari pekerjaannya), penghasilannya juga gak banyak dibandingkan yang dinilai kemudahannya sedikit," katanya. 

Ditambah lagi sebagian besar ada yang dipengaruhi oleh mengikuti teman, mengikuti kehendak orang tua, juga faktor kesukaan pelajaran, sedangkan yang memilih jurusan karena memiliki cita-cita yang ideal hanya tercatat sebanyak 13 persen. 

"Yang ideal yang 'sesuai dengan cita-cita saya' tidak banyak hanya 13 persen," ungkapnya.

Padahal dari data BPS menunjukkan, meski pengangguran secara keseluruhan menurun, namun jumlah saat dibagi perkelompok pendidikan, data tingkat diploma dan universitas justru naik. 

Hal ini kata Ignatius masuk akal, karena dari 71,7 pekerja tercatat setelah lulus tidak bekerja sesuai jurusannya.

"Padahal kalau kita tahu goals-nya dimana, kita jadi tahu dimana, kita akan bisa lebih bagus, lebih menguasai, bagaimanaa nguliknya dan sebagainya," paparnya. 

Baca juga: Gaji Tinggi Belum Tentu Mapan Lho Kalau Tak Penuhi Syarat Berikut (Bagian II)

Akhirnya kata dia, permasalahan ini berakhir pada permasalahan daya saing sebagai bangsa jadi tanda tanya besar. Satu sisi mahasiswa masa depan gak jelas karena mereka gak tau konteksnya saat belajar sesuatu itu nanti dipakai untuk apa, jadi kehilangan konteks yang dipelajari.

"Dari sisi akademik perspektif, kampus-kampus akan terus punya akademik dan bisnis gap, setelah lulus harus kursus lagi ditraining dan selanjutnya lulusan medioker yang so so (biasa saja) karena belajarnya contexless," katanya.  

Sementara dari sisi prespektif bisnis atau perusahaan akan susah sekali dapat talent. Kalaupun dapat, akan sangat mahal biayanya dan tarik menarik talent sulit dihindari. Sehingga membuat biaya Ekonomi tinggi karena kebutuhan talent yang memiliki skill tinggi juga harus mengimpor. 

"Sehingga perspektif pemerintah, biaya ekonomi tinggi dan harus impor talent semua bermuara pada negara kita kehilangan competitiveness (saya saing)," pungkasnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More