Pantau Flash
BI Prediksi Turis Muslim Akan Capai 158 Juta Orang Tahun Depan
Utang Luar Negeri Indonesia Menjadi 395,6 Miliar Dolar AS
Tol Terpeka Digratiskan Selama Sebulan
Tol Terpeka Diklaim Jadi Jalur Produktif Pulau Sumatera-Jawa
Rupiah Menguat 20 Poin, Kini di Angka Rp14.058-14.120

Dear Pemerintah... Ada Bahaya yang Mengintai Senyum Tanah Papua

Dear Pemerintah... Ada Bahaya yang Mengintai Senyum Tanah Papua Kanker mulut yang terjadi di Papua dan Papua Barat terutama disebabkan oleh kebiasaan menyirih, yang sudah menjadi budaya. (Foto: Flickr/Carsten ten Brink)

Pantau.com - Kanker mulut di Indonesia banyak ditemukan di provinsi Papua Barat dengan melihat tingginya angka pra-kanker dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2016.

Kanker Mulut di Papua:

1. Disebabkan oleh kebiasaan menyirih yang menggunakan bahan-bahan mengandung karsinogen

2. Data soal kanker mulut tidak tersedia, sehingga tidak adanya kewaspadaan soal kanker mulut

3. Menjadi salah satu bukti masih adanya kesenjangan dan pelayanan umum di Papua

Drg Elizabeth Fitriani Sari, kandidat PhD dari Melbourne Dental School di University of Melbourne, Australia, melakukan riset dan membandingkan kasus pra-kanker di Banda Aceh, Bandung, Kalimantan Barat, Jakarta, serta provinsi Papua Barat.

"Pra-kanker ini dapat berpotensi menjadi kanker mulut, jika faktor penyebab yang dicurigai tidak dihilangkan dan lesi pra-kanker tidak diobati sejak dini," ujarnya, yang dikutip dari ABC Indonesia, Jumat (20/9/2019).

Ini adalah salah satu contoh yang merupakan Pra-kanker akibat menyirih. (Foto: Elizabeth Fitriana Sari via ABC News)

Menurutnya, penyebab dari tingginya pra-kanker adalah kebiasaan menyirih, sebuah tradisi yang juga masih banyak dilakukan di berbagai daerah. Tapi kandungan sirih yang dikunyah di Papua Barat memiliki perbedaan dibandingkan keempat daerah lainnya.

"Selain pinang, kapur putih, uniknya di Papua Barat mereka tidak menggunakan daun sirih tapi bagian bunganya," kata perempuan yang menyelesaika pendidikan S1 kedokteran giginya di Univesitas Padjajaran, Bandung tersebut.

Baca juga: Menhan Tegaskan Tak Akan Tarik TNI-Polri dari Papua, Ini Alasannya

Dari hasil penelitiannya ditemukan pinang dan bagian bunga sirih mengandung potensi penyebab kanker yang jauh lebih tinggi dibandingkan jenis sirih yang dibudidayakan di kawasan Indonesia lainnya. Kebanyakan orang "bingung", karena mengenal daun sirih mengandung anti-oksidan, tapi ternyata bisa juga menyebabkan kanker.

"Istilah menyirih itu sebenarnya campuran antara pinang dan kapur yang kemudian dibungkus daun sirih. Yang berbahaya dari campuran ini adalah pinang dan bunga sirih seperti yang digunakan di Papua, kata dia.

Bunga inilah yang menjadi racun bagi sel-sel tubuh manusia, juga pemilihan pinang muda oleh kebanyakan masyarakat Papua mengandung karsinogen, atau zat penyebab kanker, serta tambahan kapur.

Papua Nugini memiliki budaya menyirih dengan kandungan yang sama di Papua Barat. Di tahun 2015, pemerintah Papua Nugini sudah melarang penduduknya untuk menyirih, karena ada 25 ribu orang yang tewas per tahun akibat menyirih.

Rendahnya kesadaran kanker mulut

Paket menyirih di Papua termasuk pinang, bunga sirih, dan kapur, yang menjadi salah satu pemicu kanker mulut. (Foto: Elizabeth Fitriana Sari)

Hingga saat ini Indonesia belum memiliki program kewaspadaan soal kanker mulut, sehingga penyakit tersebut masih dianggap sepele, bahkan tidak diketahui kebanyakan orang. Padahal menurut Drg Elizabeth, kanker mulut ini sama ganasnya dengan jenis kanker lainnya.

"Mereka yang mengidap kanker mulut itu lidahnya diambil, rahangnya dipotong, kelenjar di lehernya juga dipotong untuk menghindari penyebaran," kata dia.

Ia menambahkan masyarakat di Indonesia sebenarnya sudah sangat sering terpapar penyebab kanker mulut, lewat menyirih, merokok, bahkan minuman tradisional yang mengandung alkohol tinggi. Tidak adanya kewaspadaan soal kanker mulut salah satunya disebabkan tidak tersedianya data berapa yang mengidap kanker mulut dan jumlah penderita yang meninggal.

Berdasarkan data dari badan kesehatan dunia, WHO, kanker mulut adalah salah satu jenis kanker yang paling banyak ditemukan di dunia, selain juga menjadi penyebab utama kematian di sejumlah negara-negara di Asia.

"Pemerintah harus memprioritaskan kanker mulut ini, karena sama pentingnya dengan kondisi kanker-kanker lain," kata Drg Elizabeth.

Baca juga: Bagaimana Kasus Papua dan Veronica Koman Sampai di Dewan HAM PBB?

Papua masih belum jadi fokus


Drg Elizabeth Fitriana Sari sedang melakukan pendeteksian kanker mulut di Puskesmas Remu, kota Sorong. (Foto: Koleksi pribadi)

Saat melakukan penelitian, Dr Elizabeth sempat memberikan pelatihan bagi para dokter gigi di provinsi Papua Barat, agar mereka memiliki keterampilan bagaimana caranya melakukan 'screening' kanker mulut. Tujuannya agar kanker bisa dideteksi sedari dini dan jika masih dalam kondisi pre-kanker akan masih bisa diobati.

Selama di Papua Barat, ia juga melihat pelayanan kesehatan umum masih tertinggal dibandingkan dengan Kalimantan Barat dan daerah lain yang ia kunjungi untuk penelitiannya.

"Dari fasilitas, biaya kesehatan, kemudian sumber daya manusia, seperti dokter yang kompeten, sangat minim sekali," ujarnya.


Pelayanan untuk warga Papua masih sangat tertinggal, termasuk di bidang kesehatan. (Foto: Flickr/Lukas Kurniawan)

Drg Elizabeth menyatakan ketidaksetujuannya jika dikatakan jarak yang jauh menjadi penyebab ketertinggalan Papua dalam berbagai aspek, terutama soal pelayanan kesehatan.

Menurutnya yang perlu dikritisi adalah seberapa besar perhatian pemerintah pada masalah kesehatan di Papua dan apakah alokasi anggaran yang diberikan sudah tepat sasaran.

"Saya merasa mereka telah diperlakukan tidak cukup adil di berbagai aspek, terutama kesehatan yang menjadi fokus saya," ujarnya.

Dari pantauannya masyarakat Papua yang berasal dari kelas ekonomi rendah, kemudian terkena kanker mulut, maka mereka tidak memiliki pilihan lain dan "dibiarkan meninggal".

Padahal di Kalimantan Barat, penderita kanker masih bisa dikirim ke pusat kota Pontianak, dimana sudah bisa ditemukan banyak ahli kanker dan spesialis mulut.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Nasional

Berita Terkait: