Forgot Password Register

Dua Pemimpin Khmer Merah Terbukti Melakukan Genosida di Kamboja

Dua Pemimpin Khmer Merah Terbukti Melakukan Genosida di Kamboja Mantan Khmer Merah duduk di dalam ruang sidang di pengadilan Kamboja. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Kedua pemimpin rezim Khmer Merah dinyatakan bersalah usai terbukti bersalah melakukan genosida yang menyebabkan 2,2 juta orang meninggal dunia pada 40 tahun yang lalu. Dua pemimpin Khmer Merah yang terbukti melakukan genosida, yakni Nuon Chea (92) dan mantan Kepala Negara Khieu Samphan (87). Keduanya merupakan tokoh senior Khmer Merah yang masih hidup.

Seperti dilansir Daily Mirror, Jumat (16/11/2018), ratusan kamp-kamp buruh dihancurkan yang menyebabkan ratusan ribu korban jiwa tewas akibat dianiaya hingga mati hingga melakukan eksekusi massal.

Khmer Merah telah merebut pemerintahan sah Kamboja di tahun 1975 dan 1979, selama itu antara 1,7 hingga 2,2 juta orang meninggal dunia. Jumlah tersebut merupakan seperempat populasi penduduk negara Kamboja.

Nuon Chea dikenal sebagai Saudara Kedua karena kedekatannya dengan diktator Pol Pot. Ia juga terbukti bersalah telah melakukan genosida terhadap etnis Vietnam dan Kelompok Champ. Pol Pot atau dijuluki Saudara Nomor 1 merupakan pemimpin tertinggi penguasa Khmer Merah yang meninggal di tahun 1998.

Keduanya telah dijatuhi hukuman seumur hidup pada 2014 atas kekerasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan, yang berhubungan dengan evakuasi paksa orang-orang di Ibu Kota Phnom Peth setelah keduanya mengambil kekuasaan.

Baca juga: Genosida Rohingya oleh Militer Myanmar, Nobel Aung San Suu Kyi Dipertanyakan

Ada perdebatan selama bertahun-tahun di antara para ahli hukum, apakah pembunuhan yang dilakukan oleh Khmer Merah merupakan genosida, yang sejauh ini sebagian korban merupakan warga Kamboja.

Pengadilan menemukan, selama penjajahan Khmer Merah memiliki kebijakan untuk menargetkan orang-orang Cham dan vietnam untuk menciptakan masyarakat homogen tanpa pembagian strata.

"Genosida telah dilakukan terhadap Cham, Vietnam, dan Buddha," ucap Hakim Nol Nonn dalam putusannya.

Cham yang telah tersebar di antara desa-desa Khmer yang menyebabkan perubahan masyarakat Kamboja. 

"Warga Cham diambil dengan jumalh yang cukup besar dan dilakukan pembataian skala besar," ucapnya.

Ratusan warga sipil Vietnam dan prajurit telah tewas di pusat interogasi S-21, di sebuah sekolah di Phnom Pnh yang disebut Tuol Sleng, setelah sebelumnya disiksa untuk mengakui sebagai mata-mata.

Direktur Regional Amnesty Internasional untuk Asia Timur dan Tenggara Nicholas Bequelin mengatakan, putusan hari ini semoga bisa membawa keadilan bagi para korban, 40 tahun setelah kejahatan yang dilakukan Khmer Merah di Kamboja tidak terungkap.

Baca juga: Kamboja Bebaskan 14 Pemberontak Pemerintah

Share :
Komentar :

Terkait

Read More