Pantau Flash
BNPB: Kualitas Udara di Sumsel, Jambi, dan Riau Sangat Tidak Sehat
F1 Bakal Digelar di Miami pada Musim 2021
OJK: Kehadiran Palapa Ring Bisa Percepat Industri Fintech di Indonesia
Kementan Dorong Kawasan Perbatasan Jadi Lumbung Beras dan Ekspor
Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Warga Panik Luar Biasa

Ekonomi Global Tergunjang, Menko Darmin: Jangan Dianggap Kita Payah Juga

Ekonomi Global Tergunjang, Menko Darmin: Jangan Dianggap Kita Payah Juga Menko Perekonomian Darmin Nasution (Foto: Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut ekonomi Indonesia masih kuat karena didorong sektor konsumsi dalam negeri meski perkembangan global saat ini melambat.

"Kita lebih banyak tergantung permintaan (demand) di dalam negeri dari pada ekspor. Jadi jangan dicampur aduk, dunia sedang payah jangan dianggap kita juga payah," kata Darmin Nasution di kantornya di Jakarta, Rabu (9/10/2019).

Dengan begitu, ia optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga tahun ini masih di atas lima persen. Darmin juga menyebut ekonomi Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Baca juga: Pencari Kerja Catat! Di Australia Alumni Kampus Top Malah Dapat Gaji Kecil

Hal itu disebabkan karena peranan ekspor impor Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB), lanjut dia, juga tidak terlalu tinggi dibandingkan dua negara tersebut.

Meski begitu, Darmin mengakui perlambatan ekonomi global juga dirasakan Indonesia karena ekspor utama RI adalah China dan Amerika Serikat, dua negara yang saat ini terlibat perang dagang. Walau dirasakan, Darmin menyebut pengaruhnya tidak terlalu banyak.

"Tidak terlalu banyak (pengaruh), karena kita porsi ekspor impor di dalam ekonomi tidak setinggi Malaysia atau Thailand sehingga, masih bisa bertahan sampai lima persen," imbuh Darmin.

Sementara itu, Darmin menyebut ekspor impor Indonesia yang selama enam bulan terakhir melambat, kini sudah mulai membaik sejak dua bulan lalu.

"Impor itu indikator dari penggunaan bahan baku dan barang modal, karena 90 persen impor kita itu bahan baku dan barang modal," ucap Darmin.

Baca juga: Bak Huawei, Perusahaan Kecerdasan Buatan China Juga Masuk Daftar Hitam AS

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia Januari-Agustus 2019 secara kumulatif mencapai 110,07 miliar dolar AS atau menurun 8,28 persen dibanding periode yang sama tahun 2018. Dari perolehan itu, nilai ekspor nonmigas paling besar mencapai 101.480 miliar dolar AS.

Pada periode Januari-Agustus 2019, China menjadi negara tujuan utama ekspor RI dengan nilai mencapai 15.947,9 juta dolar AS atau 15,71 persen.

Posisi kedua diikuti Amerika Serikat dengan nilai 11.513,5 juta dolar AS atau 11,35 persen dan Jepang dengan 9.091,5 juta dolar AS (8,96 persen). Komoditas utama yang diekspor ke China pada periode tersebut adalah batubara, lignit, dan minyak kelapa sawit.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: