Pantau Flash
Terang-terangan Bappenas Minta Fesyen Tanah Air Saingi Uniqlo
Ganjar Minta ASN Jateng Penganut Paham Radikal Segera Mengundurkan Diri
Kena PHP Donald Trump, Huawei Putuskan PHK Karyawan di AS
PN Jaksel Tolak Gugatan Perdata Kasus Pelecehan Seksual di JIS
Produk Kertas RI Melenggang Bebas dari Bea Masuk Anti-Dumping Korsel

Empat Driver Ojol Doyan Bikin Order Fiktif, Sehari Raup Rp10 Juta

Headline
Empat Driver Ojol Doyan Bikin Order Fiktif, Sehari Raup Rp10 Juta Pelaku order fiktif (Foto: Pantau.com/Rizky Adytia)

Pantau.com - Subdit IV Cyber Crime Direktorat Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya membekuk empat tersangka tindak pidana penipuan dengan modus memalsukan pesanan transportasi online atau yang dikenal dengan order fiktif.

Keempat tersangka yakni RP, RW, CP, dan KA melancarkan aksinya dengan cara menggunakan aplikasi tertentu agar dapat mengoperasikan puluhan akun driver transportasi online agar mendapatkan orderan palsu atau fiktif.

"Para tersangka ini menggunakan aplikasi tertentu untuk mengatur orderan palsu agar seolah-olah mendapat pesanan atau orderan," ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Baca juga: Polda Metro Jaya Telusuri Pemilik Akun Instagram 'Komik Muslim Gay' Berkonten LGBT

Selain itu, kata Argo, dari hasil pemeriksaan, setiap tersangka diketahui memiliki lebih dari satu akun. Bahkan, setiap tersangka dapat membuat pesanan palsu mencapai 25 kali.

Sehingga, dari pesanan fiktif itu setiap tersangka dapat meraup keuntungan mencapai Rp350 ribu untuk setiap akun yang digunakannya atau per hari.

"Para tersangka meraup keuntungan sebanyak Rp10 juta per hari," kata Argo.

Lebih jauh, dari pemeriksaan juga diketahui bahwa keempat tersangka telah melancarkan aksinya sejak November 2018. 

Baca juga: Adi Saputra Sang Pembanting Motor Diperiksa Kejiwaannya di Polda Metro

Namun, hingga saat ini penyidik masih mendalami apakah benar empat pelaku itu hanya menjalankan tindak penipuannya selama tiga bulan dan juga teknologi atau aplikasi yang digunakan oleh para tersangka. 

"Tim penyidik masih mendalami, dan dengan kemampuan teknologi, Subdit Cybercrime akan melacaknya. Termasuk mencari jumlah total kerugian yang dialami Gojek," tandas Argo.

Akibat perbuatannya para tersangka dijerat dengan Pasal 35 Juncto Pasal 51 Ayat (1) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang informasi elektronik dengan ancaman hukuman pidana 12 tahun penjara atau denda paling banyak Rp12 miliar.


Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Adryan Novandia
Reporter
Rizky Adytia Pramana
Category
Nasional

Berita Terkait: