Forgot Password Register

Ini Faktor yang Mempengaruhi Rupiah Anjlok Menyentuh Rp15.200

Mata uang rupiah (Foto: Pantau.com/Fery Heryadi) Mata uang rupiah (Foto: Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Nilai tukar rupiah diperdagangan melemah sekitar 0,41persen di awal pekan ini ke level 15.190-15.260 per dolar Amerika Serikat (AS), setelah terdepresiasi 1,84 persen selama pekan lalu.

Ekonom Permata Bank, Joshua Pardede mengatakan tren penguatan Dollar AS terhadap seluruh mata uang dipengaruhi oleh kenaikkan imbal hasil utang pemerintah AS atau US Treasury (UST).

"Tren penguatan dollar AS terhadap seluruh mata uang dunia dipengaruhi oleh kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS, US Treasury, dengan tenor 10 tahun yang meningkat signifikan menjadi 3,23 persen atau meningkat sekitar 17bps dalam sepekan," ujarnya saat dihubungi, Senin (8/10/2018).

Baca juga: Ganggu Rupiah, Darmin Akui Perang Dagang AS-China Sulit Direm

Ia menambahkan, Kenaikan UST yield ditopang oleh komentar hawkish dari Gubernur Fed, Jerome Powell, yang mengatakan bahwa prospek ekonomi AS sangat positif dan suku bunga kebijakan Fed diperkirakan akan naik di atas level 3 persen dalam jangka panjangnya.

"Meskipun data ekonomi AS yang dirilis Jumat lalu cukup bervariasi dimana NFP bulan September yang menurun menjadi 134K dari bulan sebelumnya yang tercatat 201K, tingkat pengangguran di bulan Sep’18 turun ke level 3,7 persen, level terendah sejak awal tahun 1970," katanya.

Tingkat pendapatan pada bulan September 2018 juga dinilainya menunjukkan tren yang stabil dari bulan sebelumnya. "Tren positif data tenaga kerja AS mengonfirmasi pernyataan Powell sebelumnya bahwa kondisi ekonomi AS cenderung membaik dan berpotensi mendorong kenaikan inflasi sehingga mendukung kenaikan suku bunga AS lebih agresif dalam jangka pendek ini," paparnya.

Baca juga: Devisa Negara (Terus) Berkurang 3,1 Miliar Dolar AS

Selain itu, faktor lainnya yang membuat sebagian besar mata uang negara Asia juga tertekan pasca keputusan bank sentral Tiongkok yang memangkas GWM sebesar 1 persen.

"Dimana pelonggaran kebijakan moneter People's Bank of China (PBoC) tersebut ditujukan untuk membatasi perlambatan ekonomi Tiongkok yang didorong oleh kebijakan preteksionisme pemerintah AS," katanya.

Ditambah lagi tekanan terhadap mata uang negara Afrika Selatan terkait risiko politik juga turut membebani sebagian besar mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More