Forgot Password Register

Lelang Frekuensi Radio Rp281 Triliun, Trump Sumpah Kalahkan 5G China

Lelang Frekuensi Radio Rp281 Triliun, Trump Sumpah Kalahkan 5G China Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: Reuters/Jonathan Ernst)

Pantau.com - Dalam upaya untuk mengungguli China di bidang teknologi nirkabel generasi kelima, yang dikenal sebagai 5G, Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan lelang frekuensi radio terbesar yang pernah ada yakni dana sebesar $20 miliar (atau Rp281 triliun) untuk membangun jaringan utama serat optik di kawasan pedesaan.

"Kita tidak dapat biarkan negara lain manapun untuk mengalahkan Amerika Serikat dalam kompetisi di bidang industri yang sangat berpengaruh di masa depan," ujar Trump dari Ruangan Roosevelt di Gedung Putih, didampingi oleh kelompok pemanjat menara telekomunikasi dan para petani. 

"Pertarungan di bidang teknologi 5G adalah pertarungan yang harus kita menangkan," tegasnya.

Mulai 10 Desember, Federal Communication Commission (FCC) akan mulai melelang tiga frekuensi gelombang milimeter (di atas 37 GHz, 39 GHz, dan 47 GHz) untuk dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan telekomunikasi.

Baca juga: Kementerian ESDM Klaim Tak Ada Negara di Manapun Implementasikan B20

Beberapa sekutu Trump telah mencoba untuk membujuknya untuk secara efektif menasionalisasi teknologi ini sebagai masalah keamanan nasional.

Trump mengaku ia telah mempertimbangkan rencana seperti itu yang ditentang oleh FCC dan lainnya, namun pada akhirnya tidak lagi menunjukkan dukungannya.

"Kami tidak ingin melakukannya. Hasilnya tidak akan sebaik, dan secepat yang diharapkan," ujar Trump.

"Gagasan tentang jaringan 5G yang dirancang dan dioperasikan pemerintah di AS sama sekali tidak masuk akal. Pasar yang kompetitif, tidak terlalu dibebankan oleh peraturan sudah menjadi ciri yang diterapkan oleh AS selama ini. Kebijakan ini telah berhasil mencapai keberhasilan dalam kasus teknologi 4G dan akan mendorong investasi dan inovasi di bidang teknologi 5G," ujar Gabriel Brown, seorang analis utama pada perusahaan riset industri telekomunikasi yang berpusat di London, Heavy Reading, kepada VOA.

Baca juga: Sistem Pajak AS Jerat Bayi Meghan-Pangeran Harry Rp222 Juta Lebih

Ia juga melihat hal ini tidak masuk akal dalam kaitannya dengan persaingan melawan China – ini adalah pasar yang berbeda dengan fase perkembangan yang berbeda pula.

Riley Walters, seorang analis kebijakan pada Asian Studies Center, Heritage Foundation, sepakat, dengan mengatakan sektor swasta adalah cara yang paling efisien untuk mendistribusikan berbagai kemampuan teknologi 5G. 

"Bahkan apabila langkahnya tidak sesuai dengan apa yang diingikan oleh para penyokong langkah nasionalisasi. Deregulasi harus dapat menekan biaya dari para pengembang domestik untuk meningkatkan wawasan waktunya," tuturnya.

Menghubungkan Amerika

Teknologi 5G dengan kecepatannya yang mencapai 100 kali lebih dibandingkan kecepatan internet dengan teknologi 4G yang ada saat ini akan memungkinkan munculnya segala sesuatu dari apa yang disebut dengan kota-kota dan pertanian pintar hingga mobil swa-kemudi.

"Kami ingin warga Amerika menjadi yang pertama untuk menjadi yang pertama menarik manfaat dari revolusi digital yang baru ini sementara juga melindungi para inovator dan warga kita," ujar Kepala FCC, Ajit Pai. 

Dana Peluang Digitalisasi Kawasan Pedesaan yang mencapai $20,7 juta yang akan berasal dari sumber dana subsidi FCC yang ada, yang dimaksudkan untuk menghubungkan 4 juta rumah tangga warga Amerika dalam sepuluh tahun mendatang.

Baca juga: Sexy Killers Menguak Gerilya Pengusaha Batu Bara dalam Pilpres 2019

Peluncuran jaringan serat optik yang berbiaya tinggi dipandang sebagai sesuatu yang esensial untuk menghubungkan jaringan komunikasi nirkabel kembali ke pusat jaringan internet.

"Menghimpun dana nasional untuk mendukung para inovator ini adalah gagasan yang hebat," ujar Prakash Sangam, pendiri Tantra Analyst, yang terlibat dalam pemasaran dan pengembangan bisnis teknologi nirkabel. 

"Saya juga menyarankan pemerintah AS turn tangan dan memfasilitasi penyelesaian konflik di antara perusahaan teknologi Amerika sehingga mereka dapat bekerjasama dan secara efektif dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang disponsori oleh pemerintah asing," pungkasnya. 

Share :
Komentar :

Terkait

Read More