Pantau Flash
Selamat Tinggal.... Bioskop XXI di Taman Ismail Marzuki Stop Operasi
Ketua MPR: UU Buatan DPR dan Pemerintah Banyak yang Salahi UUD 1945
Bom Bunuh Diri Terjadi di Ibu Kota Afghanistan, 63 Orang Tewas
Pratu Sirwandi, Prajurit TNI Korban Penembakan KKSB di Papua Gugur
Prabowo: Rencana Pemindahan Ibu Kota Sudah Digodok Gerindra Sejak 2014

Manfaatkan Teknologi Kecerdasan Buatan, Tik Tok Cegah Konten Pornografi

Manfaatkan Teknologi Kecerdasan Buatan, Tik Tok Cegah Konten Pornografi Tik Tok. (Foto: Istimewa)

Pantau.com - Di tengah maraknya isu konten negatif di media sosial, platform video pendek TikTok memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk menjaga konten di platform tersebut.

"Kami menggunakan machine learning untuk mengatasi video-video sensitif," kata pimpinan komunikasi TikTok Indonesia, Chaterine SIswoyo, dikutip dari Antara, Rabu (14/8/2019).

Baca juga: Tik Tok Kena Denda Rp80 Miliar

Kemampuan mesin untuk mendeteksi video yang tidak pantas dipadukan dengan tim manusia yang akan meninjau video-video di TikTok. TikTok akan menghapus video tersebut jika memuat konten negatif.

TikTok, yang tahun lalu menembus 10 juta pengguna di Indonesia, memberi batasan usia minimal 14 tahun untuk bergabung ke platform tersebut, lebih ketat jika dibandingkan dengan media sosial lain yang membatasi usia minimum 13 tahun.

TikTok melengkapi platform mereka dengan kontrol orang tua, parental control, agar dapat mengawasi konten yang dikonsumsi anak.

Tidak hanya urusan konten, TikTok juga memasukkan sejumlah fitur agar kesehatan mental para penggunanya terpantau selama memakai platform tersebut, melalui program digital wellbeing.

TikTok menyediakan opsi untuk membatasi waktu bermain, antara lain 40 menit, 60 menit dan 120 menit. Setelah durasi habis, pengguna secara otomatis akan keluar (log out) dari platform.

Konten-konten yang beredar di media sosial kembali menjadi pembicaraan hangat sejak kasus blokir sejumlah video YouTuber Kimi Hime yang dianggap vulgar oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika beberapa pekan lalu.

Tidak lama setelah kasus tersebut, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berencana mengawasi konten di platform streaming agar masyarakat mendapat tontonan yang berkualitas dan memiliki nilai edukasi.

Baca juga: Lewat Tik Tok, Seorang Tunawisma Bertemu Kembali dengan Keluarganya

Wacana KPI untuk mengawasi platform streaming mendapat banyak protes, termasuk dari ahli dunia digital, lantaran dinilai belum memiliki wewenang untuk mengawasi platform seperti Netflix dan YouTube.

Masyarakat juga tidak setuju dengan rencana tersebut karena platform streaming merupakan siaran alternatif untuk memperoleh tontonan dan merupakan barang konsumsi karena konsumen membayar untuk mendapatkan tontonan.

Share this Post:
Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Gilang K. Candra Respaty
Penulis
Gilang K. Candra Respaty
Category
Ragam

Berita Terkait: