Forgot Password Register

Order Fiktif Bergentayangan di Bisnis Transportasi Online

Diskusi Publik Mengungkap Fenomena Order Fiktif (Foto:Pantau.com/Ratih Prasatika) Diskusi Publik Mengungkap Fenomena Order Fiktif (Foto:Pantau.com/Ratih Prasatika)

Pantau.com - Institute tor Development of Economics and finance (INDEF) memukan maraknya order fiktif di industri ride-hailing atau transportasi berbasis aplikasi di Indonesia.

Survei mencatat para mitra pengemudi mengakui bahwa tindakan curang sangat banyak terjadi sehari-hari di lapangan. 

"Hampir dua dari tiga mitra pengemudi atau sebesar 61,2 persen mengatakan bahwa mereka mengetahui sesama mitra pengemudi yang pernah melakukan order fiktif atau dikenal sebagai “opik” untuk mencapai target jumlah perjalanan dan mendapatkan insentif," ujar Berty Martawardaya, Direktur Program lNDEF, saat jumpa pers di kantor INDEF, Jl. Batu Merah, Jakarta Selatan, Kamis (7/6/2018).

Baca juga: Wadaw! Survey Menyebutkan Orang China Lebih Suka Barang Impor?

Ia menambahkan, dalam survei yang melibatkan 516 mitra pengemudi dua perusahaan ride-hailing terbesar, Go-Jek dan Grab mencatat lebih dari setengah pengemudi mengetahui sesama mintra pengemudi yang pernah melakukan tindakan curang. 

"Mayoritas mitra pengemudi atau sebesar 54 persen mengaku bahwa mereka mengetahui sesama mitra pengemudi pernah melakukan tindakan curang demi mengejar insentif yang dijanjikan perusahaan ride-hailing bila mencapai target," ungkapnya.

Dari driver Go-Car mengatakan 62,50 persen mengetahui ada mitra yang melakukan order fiktif, dari Go-jek Bike 59,86 yang mengaku mengetahui, Grab Car 66,67 persen dan Grab Bike 56,25 yang mengetahui. 

Para mitra pengemudi yang melakukan tindakan curang diketahui menggunakan perangkat lunak GPS palsu, untuk memalsukan perjalanan dan menyelesaikan perjalanan tanpa harus benar-benar membawa penumpang dan mencurangi sistem.

Baca juga: Berapa Sih Pasang Iklan di Facebook?

"Dengan menggunakan banyak nomor dan akun palsu, mereka berpura-pura menyelesaikan perjalanan demi mendapat insentif yang dijanjikan, setelah mencapai target jumlah perjalanan tertentu," paparnya.

Tak hanya itu, order fiktif juga kerap kali dilakukan bukan hanya untuk mengejar insentif, namun juga untuk menjauhkan mitra lain dari tempat tertentu.

"Hampir semua mitra pengemudi atau sebesar 81 persen mengaku mendapat order fiktif setiap minggunya dan satu dari tiga yakni sebesar 37 persen mitra pengemudi mengaku mendapat order fiktif setiap harinya," katanya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More