Forgot Password Register

Headlines

Rekam Jejak Kivlan Zen, dari Isu PKI hingga Jasanya untuk Negeri

Rekam Jejak Kivlan Zen, dari Isu PKI hingga Jasanya untuk Negeri Kivlan Zen. (Foto: Facebook/Kivlan Zen)

Pantau.com - Nama mantan Kepala Staf Kostrad, Mayjen (Purn) Kivlan Zen mendadak jadi perbincangan dalam dua hari terakhir, lantaran aksinya yang disebut memimpin massa untuk berdemo di gedung KPU dan Bawaslu RI, di Jakarta.

Dalam tuntutan aksinya, massa yang dipimpin Kivlan Zen dan Eggi Sudjana itu menuntut agar penyelenggara pemilu mendiskualifikasi paslon nomor urut 01 Joko Widodo dan KH Ma'ruf Amin, karena dituding penuh kecurangan.

Kivlan Zen pun dianggap jadi orang yang paling menonjol pada aksi itu. Jika ditelisik lebih jauh, pria kelahiran Langsa, Aceh, 24 Desember 1946 ini tak sekali dua kali memantik kontroversi. Namanya kerap jadi buah bibir pemberitaan akibat ucapannya yang kontroversial. 

Baca juga: Tanggapi Soal Setan Gundul, Kivlan Zen: SBY Licik!

1. Berseteru dan Sebut PDIP Banyak Diisi Orang PKI


Dalam beberapa kali tayangan di televisi, Kivlan sering menuduh beberapa orang dan tokoh politik sebagai anggota PKI. Bahkan, secara terang-terangan Kivlan menuding PDIP banyak menampung pihak yang terkait PKI.

"Enggak, PDIP (bukan pecahan PKI), tapi banyak menampung," kata Kivlan, usai diskusi dengan tema 'Isu Kebangkitan PKI: Antara Realita atau Propaganda' di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Selasa, 6 Maret 2018 lalu.

Baca juga: Blak-blakan Jokowi, dari PKI Balita hingga Label Musuh Ulama

Kivlan mengatakan ada sejumlah nama kader partai berlambang banteng itu yang diduga berkaitan dengan PKI. Kivlan pun meminta mereka untuk mundur dari jabatannya.

"Sebaiknya PDIP itu menarik lah, orang-orang seperti Eva Kusuma Sundari, Rieke Dyah Pitaloka, Budiman Sudjatmiko, dia membuat buku itu, janganlah dimasukan jadi pimpinan lagi," katanya.

Atas dasar itu, Kivlan menilai, PDIP kerap dianggap dekat dengan komunis. Bahkan pada tahun 2015, kata Kivlan, PDIP mengirimkan sejumlah kadernya ke Partai Komunis China untuk belajar ilmu politik dan pengkaderan.

2. Tuduh Jokowi Didukung PKI


Oktober 2018, Kivlan kembali berkoar. Ia menuduh Presiden Joko Widodo mendapat dukungan dari PKI.

Menurutnya, golongan yang disebut PKI itu, menyiapkan dukungan lima belas juta suara untuk Jokowi. Dukungan itu diberikan dengan syarat Jokowi mewakili negara untuk meminta maaf kepada PKI.

"Ada 15 juta suara untuk Jokowi dari PKI," ujarnya di Jakarta, Senin, 15 Oktober 2018.

Tidak hanya itu, ia juga menuduh partai pendukung Jokowi, seperti Golkar, PDIP, dan NasDem menjalin kerjasama dengan Partai Komunis Cina (PKC). Namun, hingga kini dirinya belum bisa menunjukkan bukti tudingan tersebut.

3. Dituding Terlibat Makar Jelang Aksi 212

Jika dilihat lebih jauh, tepatnya pada Desember 2016, Kivlan juga pernah jadi perhatian. Ia pernah dibekuk aparat kepolisian di rumahnya. Penangkapan itu berlangsung di pagi hari, tepat ketika massa akan menggelar aksi 212. 

Kivlan tak sendiri, dia bersama tujuh orang lainnya diboyong ke Markas Komando Brigade Mobile (Mako Brimob) di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Ke tujuh orang itu adalah Rachmawati Soekarnoputri, Eko Suryo Santjojo, Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha, Firza Husein, Ratna Sarumpaet, Alvin Indra Al Fariz, dan Sri Bintang Pamungkas.

Kivlan bersama ketujuh orang tersebut dituduh bersekongkol untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Salah satunya dengan merancang gerakan untuk mendorong massa pendemo 2 Desember ke Kompleks DPR.

Baca juga: Video Kivlan Zen Bersitegang dengan Wiranto Soal Kerusuhan 1998

4. Berjasa untuk Negeri

Tuduhan makar yang dikenakan kepada Kivlan berbanding terbalik dengan jasanya di masa lalu. Meski pernah dituduh ingin menggulingkan kekuasaan yang sah, nyatanya Kivlan pernah berjasa untuk negeri. Publik tentu masih ingat peran Kivlan dalam upaya pembebasan 10 pelaut warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf di Filipina. Saat itu dia menuai banyak pujian, dia juga mengancam pihak-pihak yang memanfaatkan bebasnya seluruh sandera.

"Kami berterima kasih kepada Saudara Nur, MNLF, Gubernur Tan, Pemerintah Filipina, serta seluruh pihak yang berjasa dalam pembebasan sandera," ujar Kivlan, Sabtu, 17 September 2015.

Peran Kivlan dalam pembebasan itu bukan tanpa alasan. Kivlan merupakan seorang tokoh militer Indonesia yang pernah memegang jabatan Kepala Staf Kostrad (Kas Kostrad) ABRI. Ia pernah menjadi Komandan Kontingen Garuda/Filipina yang memperjuangkan Perdamaian Filipina Selatan pada 1995-1996.

5. Kedekatan dengan Prabowo


Posisi politik Kivlan saat ini sebenarnya tidaklah mengejutkan. Kivlan Zen yang merupakan orang dekat Prabowo Subianto bukanlah sosok baru di lingkaran ketua umum Partai Gerindra itu. 

Kivlan terakhir menjabat Kepala Staf Kostrad pada 1998. Saat itu Panglima Kostradnya dipegang Letjen Prabowo Subianto. Sejak dahulu, keduanya dikenal sebagai 'ABRI Hijau', yakni tokoh ABRI yang dikenal dekat dengan kalangan muslim. 

Namun sayang, tragedi kerusuhan 1998 membuat karir militernya tak mulus lagi. Ia lantas dipindahkan ke Mabes AD, sedangkan Prabowo harus diberhentikan. 

Share :
Komentar :

Terkait

Read More