Pantau Flash
Wanita Dalam Video Ancaman 'Penggal Kepala Jokowi' Divonis Bebas
Said Aqil kepada Polisi: Kita Selama Ini Terlalu Ramah pada Teroris
Bintang K-Pop Sully eks 'f(x)' Ditemukan Meninggal di Apartemennya
Awas! Pria Gemuk Dua Kali Lebih Berisiko Terkena Kanker Payudara
MPR Putuskan Pelantikan Presiden 20 Oktober Pukul 14.30 WIB

Resmi Ditahan karena Aniaya Relawan Jokowi, Ini Profil Bernard Abdul Jabbar

Headline
Resmi Ditahan karena Aniaya Relawan Jokowi, Ini Profil Bernard Abdul Jabbar Sekjen PA 212 Bernard Abdul Jabbar (Foto: Pantau.com/Bagaskara Isdiansyah)

Pantau.com - Polda Metro Jaya telah secara resmi menetapkan Sekretaris Jendral Persaudaraan Alumni (PA) 212 Bernard Abdul Jabbar sebagai tersangka dalam kasus penculikan disertai penganiayaan terhadap aktivis media sosial, Ninoy Karundeng.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono membenarkan penetapan Abdul Jabbar sebagai tersangka. Argo juga mengatakan nama sesuai Abdul Jabbar sesuai Kartu Tanda Penduduk (KTP) adalah Bernadus Doni.

Bernard diketahui turut mengintimidasi Ninoy Karundeng. Polisi juga menyebutkan Bernard berada di lokasi kejadian saat relawan Jokowi itu diculik dan dianiaya.

Baca Juga: Sekjen PA 212 Bernard Abdul Jabbar Ditahan atas Kasus Ninoy Karundeng

Siapakah sosok Bernard Abdul Jabbar sebenarnya?

Bernard lahir di Malang, pada 1978 dia terlahir bukan dengan namanya yang sekarang melainkan dilahirkan dengan nama Bernardus Doni. Ia dibesarkan oleh keluarga dengan latar belakang agama Khatolik Roma. 

Bagaimana tidak, kakeknya adalah seorang romo Katolik, kakak sulungnya adalah seorang biarawati. Bernard saat kecil jauh sekali dari agama Islam seperti sekarang. Bernard menempuh pendidikan dasar dan menengah juga bukan dengan sekolah dengan basic agama Islam akan tetapi ia menempuh di Sekolah Katolik. Ketertarikannya dalam mempelajari Islam ketika dirinya duduk di bangku SMA. 

Maklum saja, meski pun ia bersekolah di Sekolah Katolik tidak semua pelajar atau rekan-rekannya tersebut beragama Katolik, ada juga yang beragama Islam. Dari situ lah ia mulai diam-diam belajar mencari tahu apa itu agama Islam. Bahkan di satu kesempatan Bernard dianggap oleh rekan-rekannya yang lain sebagai seorang muslim. Pasalnya ia kerap kali terlihat melakukan salat dan juga ikut berpuasa layaknya seorang muslim.

Akhirnya Bernard muda lulus SMA pada tahun 1996, setelah itu ia berpetualang ke Jakarta untuk menemui seoarang pendeta. Ternyata Bernard ditugasi secara rahasia untuk melakukan kritenisasi orang-orang Islam di Jakarta. Bahkan untuk melancarkan aksinya tersebut Bernard diberikan beasiswa untuk memeperdalam ilmu agama Islam dengan menempuh jurusan sastra bahasa Arab di IKIP Jakarta (sekarang UNJ).

Konon katanya, Bernard juga mengambil kuliah di LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab). Semua itu dilakukan untuk menguasai ilmu tentang Islam agar mudah meyakinkan orang yang akan dimurtadkan. Namun justru yang terjadi malah bertolak belakang. Asik belajar bahasa islam dan baca buku literatur islam, Bernard malah mengaku merasa nyaman dengan agama tersebut.

Akhirnya pada tahun 1999, Bernard mengambil sikap, mengakhiri petualangan bersikap gamang. Di sebuah masjid di kawasan Klender ia mengikrarkan diri menjadi seorang muslim dengan mengucapkan dua kalimah syahadat dengan nama baru Abdul Jabbar.

Baca Juga: Sekjen PA 212 Resmi Berstatus Tersangka Penculikan Ninoy Karundeng

Resmi memeluk agama Islam Bernard aktif melakukan dakwah dan memberikan kajian. Sampai akhirnya ia turut mengikuti aksi Mujahid di Kawasan Monas dengan nama aksi 212. Adapun aksi itu digelar untuk menanggapi mantan Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama alias Ahok yang melakukan penistaan agama. Setahun kemudian aksi tersebut digelar kembali dengan tajuk bereuni.

Tak tanggung-tanggung Bernard di dapuk menjadi Ketua Panitia Reuni Akbar Mujahid 212 kala itu. Dari situlah Bernard sangat aktif dalam apapun kegiatan yang dilakukan berbau 212. Berbagai media massa kerap kali juga mengutip pernyataannya mewakili 212.

Hampir di setiap aksi hingga Ijtima Ulama Bernard sangat aktif dan tak pernah absen. Ia juga tercatat dan dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) bersama Slamet Ma'arif ia berada dalam satu gerbong ormas PA 212. Kini ia resmi ditetapkan sebagai tersangka lantaran diduga terlibat ikut menganiaya relawan Jokowi bernama Ninoy Karundeng.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Bagaskara Isdiansyah
Category
Nasional

Berita Terkait: