Forgot Password Register

Suu Kyi Soal Hukuman 2 Wartawan Reuters: Mereka Melanggar UU Rahasia

Aung San Suu Kyi. (Foto: Reuters/Soe Zeya Tun) Aung San Suu Kyi. (Foto: Reuters/Soe Zeya Tun)

Pantau.com - Pentolan sipil Myanmar Aung San Suu Kyi dengan teguh membela pemenjaraan dua wartawan Reuters yang melaporkan krisis Rohingya. 

Pemimpin de facto negara itu mengakui bahwa penindasan brutal terhadap minoritas Muslim, berdasarkan temuan PBB adalah bentuk genosida, bisa ditangani dengan lebih baik. 

"Mereka tidak dipenjarakan karena mereka wartawan, tetapi karena pengadilan memutuskan bahwa mereka telah melanggar Undang-undang Rahasia Resmi", katanya yang dikutip dari AFP, Jumat (14/9/2018).

Wa Lone (32) dan Kyaw Soe Oo (28) masing-masing dipenjara selama tujuh tahun pekan lalu karena melanggar Undang-Undang Rahasia Rahasia garis keras negara itu saat melaporkan kekejaman yang dilakukan selama penumpasan militer di negara bagian Rakhine.

Baca juga: Wartawan Reuters Dibui Soal Rohingya, Aung San Suu Kyi Dicaci dan Dibela

Suu Kyi, yang pernah dikukuhkan sebagai pemenang nobel, mendapat tekanan kuat untuk menggunakan otoritas moralnya di Myanmar.

Menantang kritik terhadap putusan - termasuk PBB, kelompok-kelompok hak asasi yang pernah berkuasa atas dirinya, dan Wakil Presiden AS - untuk menunjukkan di mana telah terjadi perampokan keadilan, Suu Kyi mengatakan bahwa kasus itu menjunjung kedaulatan hukum.

"Kasus itu diadakan di pengadilan terbuka. Saya kira tidak ada orang yang mau membaca ringkasan hakim," katanya saat diskusi di Forum Ekonomi Dunia.hun

Tak ayal komentar itu menarik respon negatif dari kelompok-kelompok hak asasi yang telah mendesak Nobel Laureate untuk memberikan pengampunan terhadap 2 wartawan Reuters.

Baca juga: Pengadilan Myanmar Jebloskan 2 Wartawan Reuters ke Penjara, Ini Penyebabnya

"Ini adalah upaya tercela oleh Aung San Suu Kyi untuk membela yang tidak dapat dipertahankan," kata Miner Pimple dari Amnesty International.

"Kecaman internasional yang menuju jalan Aung San Suu Kyi sepenuhnya layak, dia seharusnya malu."

Sean Bain, dari Komisi Ahli Hukum Internasional, mengatakan, pengadilan terbuka dirancang untuk menjelaskan proses keadilan.

"Sedihnya dalam kasus ini kita telah melihat kegagalan institusional dan individual untuk memegang prinsip-prinsip aturan hukum dan hak asasi manusia," kata dia.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More