Pantau Flash
Baznas Raih Penghargaan sebagai Lembaga Zakat Pelayanan Terbaik
Kemensos Klaim Seluruh Lokalisasi di Pulau Jawa Sudah Ditutup
Diwarnai Blunder Yanto Basna, Indonesia Kalah 0-2 dari Malaysia
MRT Bayar Listrik Rp12 Miliar Setiap Bulan
Pelebaran Trotoar di Cikini Korbankan Jalur Sepeda

Terkuak! BJ Habibie Berang pada PM Australia John Howard Soal Timtim

Terkuak! BJ Habibie Berang pada PM Australia John Howard Soal Timtim Presiden BJ Habibie dan PM John Howard bertemu Nusa Dua, Bali, pada 27 April 27 1999, untuk membahas situasi di Timor Timur setelah pada Januari 1999 Presiden Habibie mengumumkan akan memberikan referendum di propinsi ke-27 RI tersebut. (Foto: AP/Istimewa

Pantau.com - Dalam sidang kabinet Pemerintahan RI pada 27 Januari 1999 di Jakarta, Presiden BJ Habibie mengacungkan sepucuk surat di depan para menterinya. Itulah surat dari Perdana Menteri Australia John Howard yang membuat Habibie tersinggung.

"Saya marah membaca surat dia," ujar Habibie dalam wawancara dengan ABC News pada November 2008.

Pada bulan Desember 1998, PM Howard mengirimkan surat ke Habibie mengenai Timor Timur (Timtim), dan menyarankan agar Indonesia mengikuti cara Perancis dalam menangani bekas koloninya di Kaledonia Baru.

"Dalam suratnya itu, dia menyarankan agar saya menyelesaikan Timtim seperti Perancis menyelesaikan koloninya di Pasifik. Dia sarankan seperti itu," kata Habibie.

"Artinya, kita harus mempersiapkan waktu untuk 10 tahun atau apalah, dan setelah itu memberi mereka kemerdekaan. Jadi begitu saya baca itu surat, saya tersinggung," ujar Habibie.

Presiden RI ke-3 ini ingin menyelesaikan persoalan Timtim yang selama ini telah menjadi ganjalan bagi Indonesia di mata dunia internasional. Hanya sebulan setelah dilantik menggantikan Presiden Suharto, Habibie mengumumkan pada Juni 1998 bahwa Indonesia siap memberikan status otonomi khusus kepada Timtim.

Baca juga: Jejak Kontroversi BJ Habibie: Setujui Referendum Timor Timur

Dalam sidang kabinet yang menentukan itu, Habibie menegaskan Indonesia akan langsung memberikan pilihan antara otonomi khusus dan kemerdekaan bagi Timtim. Bahkan pemimpin Fretilin Xanana Gusmao, Uskup Katolik Timtim Carlos Belo dan perwakilan Fretilin di PBB Jose Ramos Horta hingga saat itu berpandangan perlunya periode 5 hingga 10 tahun otonomi khusus baru Timtim bisa merdeka.

Namum dalam penuturannya kepada ABC, Habibie menyebut bahwa surat PM Howard itulah yang mendorong dia mempercepat keputusan menggelar referendum pada awal Agustus 1999.

Mantan Dubes Australia untuk RI Richard Woolcott menilai tindakan John Howard menyurati Habibie itu "kurang bijaksana", mengingat posisi Habibie sebagai "presiden tansisional" dan mengingat "temperamennya".

Menurut Dubes Woolcott, surat Howard itu justru "mendapatkan reaksi seperti yang telah terjadi", yaitu ketersinggungan Habibie. PM Howard sendiri mengakui, dirinya kaget dan tak pernah menyangka bahwa Habibie akan "bergerak sangat cepat".

"Arah yang dia tempuh sudah sejalan dengan arah yang dikehendaki oleh isi surat itu. Hanya saja dia bergerak lebih jauh lagi. Dia melaju 20 mil bukan lima mil," kata Howard mengenai langkah Habibie menawarkan referendum.

Kepada ABC, Habibie juga menyatakan, adalah suatu penghinaan ketika PM Howard menyarankan untuk menurunkan pasukan penjaga perdamaian ke Timtim sebelum referendum.

Australia Tadinya Ingin Timtim tetap NKRI


John Howard selalu menyebut kemerdekaan Timor Leste sebagai salah satu pencapaian yang membanggakan baginya sebagai perdana menteri Australia. (Foto: Reuters/Lirio Da Fonseca)

Kisah lepasnya propinsi RI ke-27 itu sudah diketahui luas, namun anggapan bahwa Australia berperan besar dalam kemerdekaan Timtim itu mulai terbantahkan pada akhir Agustus 2019.

Saat itu, sebuah dokumen intelijen Amerika Serikat yang baru saja dideklasifikasi mengungkap bahwa justru AS menekan Jenderal Wiranto untuk menghentikan kekerasan pasca referendum dan memungkinkan masuknya pasukan penjaga perdamaian Interfet.

Dokumen ini mengklaim bahwa AS, bukan Australia, yang memaksa Indonesia menerima Interfet setelah 78,5 persen rakyat di sana memilih opsi merdeka. Dokumen tersebut mengindikasikan bahwa Australia sama sekali tidak mendukung atau merencanakan misi penjaga perdamaian sampai menit-menit terakhir.

Bertahun-tahun setelah referendum, PM Howard selalu menyatakan "pembebasan" Timor Leste adalah salah satu pencapaian paling membanggakan sebagai perdana menteri.

Profesor Clinton Fernandes dari University of NSW pada tahun 1999 bekerja sebagai analis intelijen untuk Timor Timur di Australian Theatre Joint Intelligence Centre (ASTJIC) Sydney.

Menurut dia, sikap Australia saat itu bisa ditafsirkan sebagai perlindungan diplomatik untuk kegiatan militer Indonesia. "Howard dan (Menlu Alexander) Downer berusaha keras untuk melindungi TNI," kata Prof Fernandes.

"Kabel diplomatik AS ini mengkonfirmasi bahwa kebijakan Pemerintahan Howard adalah menjaga Timtim tetap jadi bagian Indonesia. Dan pada akhirnya terpaksa mengubah sikap," katanya.

Baca juga: Celoteh Little Red Dot ala BJ Habibie yang Picu Kemarahan Singapura

Kabel diplomatik tertanggal 9 September 1999 dari Kedutaan AS di Canberra menceritakan pertemuan pribadi selama 40 menit antara Laksamana Dennis Blair, saat itu Komandan Pasukan Amerika di Pasifik, dengan Jenderal Wiranto.

Catatan dua lembar dari Laksamana Blair menunjukkan tekanan kepada Jenderal Wiranto untuk "menarik diri dari ambang bencana".

"Meskipun ada jaminan bahwa TNI dapat menjaga keamanan di Timor Timur, meski TNI mengirim sejumlah besar pasukan baru ke sana dan mengambil langkah luar biasa dengan memberlakukan darurat militer, Timor Timur berada dalam anarki," tulis Laksamana Blair.

Beberapa hari setelah Laksamana Blair menemui Jenderal Wiranto, Indonesia pun mengizinkan pasukan Interfet masuk ke Timtim.

Dalam pertemuan Presiden Habibie dan PM Howard di Nusa Dua, Bali, pada 27 April 1999, Habibie menjawab pertanyaan wartawan:

"Satu-satunya keprihatian terbesar saya adalah untuk rakyat Timtim yang tidak berdosa".

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Internasional

Berita Terkait: