
Pantau - Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) menilai kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjadi katalis positif bagi pertumbuhan pasar modal Indonesia, yang tercermin dari lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 20,18 persen sejak awal tahun.
Peran Strategis Danantara Dorong Optimisme Pasar
Ketua BPP HIPMI Bidang Sinergitas Danantara, BUMN, dan BUMD, Anthony Leong menyatakan bahwa kebijakan Danantara menjadi indikator penting yang dibaca investor sebagai bentuk penguatan struktur ekonomi nasional jangka panjang.
Menurut Anthony, Danantara tidak hanya mengelola aset, namun juga membentuk persepsi internasional bahwa Indonesia mampu menciptakan ekosistem investasi yang modern dan terukur.
“Kita melihat bagaimana konsistensi Danantara dalam memperluas kerja sama investasi telah menciptakan keyakinan baru di kalangan investor. Respons positif pasar terhadap kebijakan mereka sangat terlihat dalam tren IHSG beberapa bulan terakhir,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan bahwa Danantara telah mengamankan hampir 40 miliar dolar AS dari kesepakatan dengan mitra strategis global seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, China Investment Corporation (CIC), dan Jepang.
“Kapasitas untuk menghadirkan mitra global dalam skala sebesar itu adalah bukti kredibilitas. Investor membaca ini sebagai tanda bahwa Indonesia punya arah jelas dalam memproyeksikan pertumbuhan jangka panjang. Presiden Prabowo Subianto memiliki visi besar dan kuat dalam menata perekonomian Indonesia,” ujar Anthony.
Anthony juga menyebut kabar keanggotaan Danantara dalam International Forum of Sovereign Wealth Funds (IFSWF) akan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pengelola investasi negara yang kredibel.
IHSG Menguat, Cerminan Sinergi Kebijakan Ekonomi Nasional
Anthony menilai penguatan IHSG selama delapan bulan terakhir adalah hasil kombinasi antara arus modal asing, pembentukan modal domestik, dan stabilitas makro ekonomi.
Menurutnya, investor saat ini cenderung merespons kebijakan yang berbasis institusi kuat dan memiliki visi jangka panjang.
“Investor global dan domestik sekarang membaca Indonesia lewat data institusional, bukan melalui klaim jangka pendek. Danantara memberikan sinyal konsistensi itu. Awal saat launching Danantara, IHSG kan range 5-6 ribuan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa apresiasi terhadap kenaikan IHSG sebaiknya tidak diarahkan ke satu kementerian saja, namun dilihat sebagai buah kerja kolektif lintas sektor.
“Fondasi pasar modal tidak berdiri dari satu kebijakan sektoral. Ada kontribusi dari fiskal, moneter, institusi investasi seperti Danantara, kinerja emiten, serta persepsi geopolitik. Jadi keberhasilan IHSG adalah hasil kerja bersama, bukan peran tunggal hanya Kemenkeu,” jelas Anthony.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG per 28 November 2025 menguat 1.428,80 poin atau 20,18 persen secara year to date ke posisi 8.508,71 dari 7.079,91 pada awal tahun.
- Penulis :
- Leon Weldrick








