
Pantau - Anggota Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI, Primus Yustisio, memberikan perhatian serius terhadap kesiapan digital Bank Syariah Indonesia (BSI) dalam memperkuat layanan publik dan membangun ekosistem perbankan syariah yang modern dan kompetitif.
Primus menegaskan bahwa transformasi digital tidak lagi menjadi pilihan, tetapi sebuah keharusan yang mutlak bagi industri perbankan nasional agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan yang cepat, mudah, dan aman.
"Teknologi kini sudah sangat maju dan seluruh layanan mengarah pada digitalisasi. Kalau alasan yang diberikan hanya karena sistem masih pilot atau perangkat lama, itu bukan jawaban. Pertanyaannya: siap atau tidak menghadapi tantangan digital saat ini," ujarnya.
Soroti Lemahnya Layanan Digital dan Minimnya Akses Gen Z ke KUR
Dalam diskusi bersama pihak BSI, Primus juga menyoroti rendahnya partisipasi generasi muda, khususnya Gen Z, dalam memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR), padahal mereka memiliki potensi besar untuk menggerakkan sektor ekonomi kreatif.
"Berapa persen generasi Z yang sudah mengakses KUR? Saya yakin sangat sedikit. Padahal negara lain seperti Tiongkok sangat progresif mendorong anak mudanya menjadi produktif. Kita jangan kalah dalam menciptakan wirausaha muda," ungkapnya.
Primus menyampaikan sejumlah keluhan masyarakat terkait layanan digital BSI, seperti sering gagalnya transaksi QRIS, ketidakjelasan status refund, dan kurangnya transparansi dalam aplikasi perbankan.
"Transaksi QRIS sering gagal. Beli tiket atau bayar makan pun tidak bisa. Ketika refund, kita tidak tahu apakah sudah masuk atau belum. Kalau di bank lain seperti Mandiri, semuanya terlihat jelas. Di BSI, kita seperti berjalan dalam kegelapan. Ini tidak boleh terjadi," ia mengungkapkan.
Penguatan Sistem IT Jadi Kunci Kepercayaan Publik
Menurut Primus, jika permasalahan digitalisasi ini tidak segera dibenahi, maka akan berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap perbankan syariah nasional.
"Kalau ditanya siapa bank Himbara dengan sistem digital terbaik? Mandiri. Karena itu, perangkat IT yang unggul harus ditempatkan sebagai standar bersama agar keamanan dan integritas sistem perbankan nasional terjaga," ujarnya.
Meski begitu, Primus menyatakan optimismenya bahwa BSI bisa menyamai kualitas bank-bank besar jika didukung oleh teknologi yang andal dan inovasi layanan yang berorientasi pada pengguna.
Ia menegaskan bahwa BAKN DPR RI perlu melahirkan rekomendasi strategis yang konkret, sebagaimana sebelumnya dilakukan dalam sektor pupuk nasional yang berhasil mendorong pembangunan pabrik baru.
"BAKN harus kembali melahirkan terobosan. Kita butuh rekomendasi strategis untuk masa depan BSI agar dapat tampil sebagai bank syariah modern, kompetitif, dan berdaya saing global," tegasnya.
Digitalisasi adalah Keniscayaan
Primus menekankan bahwa penguatan sistem digital di BSI adalah langkah mutlak agar bank syariah tidak tertinggal dalam kompetisi layanan keuangan nasional yang kini semakin mengandalkan teknologi.
"Digitalisasi bukan sekadar tambahan layanan, tetapi kebutuhan utama. Jika sistemnya kuat, transparan, dan aman, BSI akan menjadi pilihan utama masyarakat. Itulah yang harus kita capai bersama," tutupnya.
- Penulis :
- Gerry Eka







